Sunday, May 01, 2005
BLONDE YANG EXCELLENT: HEGEMONI HOLLYWOOD TENTANG GADIS HEBAT
Oleh : Lalita MG (mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY, peserta mata kuliah sosiologi komunikasi)
Everybody comes to Hollywood
They wanna make it in the neighbourhood
They like the smell of it in Hollywood
How could it hurt you when it looks so good?
Shine your light now
This time it's got to be good
You get it right now
Cause you're in Hollywood
There's something in the air in Hollywood
The sun is shining like you knew it would
You're riding in your car in Hollywood
You got the top down and it feels so good
I lost my memory in Hollywood
I've had a million visions bad and good
There's something in the air in Hollywood
I tried to leave it but I never could
Music stations always play the same songs
I'm bored with the concept of right and wrong (Madonna, Hollywood)
Apakah yang diceritakan oleh lagu diatas? Pasti, Hollywood yang glamor, berpengaruh, dan setiap orang mengikutinya. Coba amati video musiknya yang vulgar. Didalam video itu ditampilkan Madonna dengan pakaian (maaf) pelacur Amerika—seperti pakaian renang—dengan stocking jala hitam meliuk-liukkan tubuhnya sesuai apa yang dikenakan. Pada bagian akhir, diperlihatkan wajah Madonna ditusuk-tusuk dengan jarum suntik oleh tangan-tangan dengan lengan baju putih-putih. Lirik dan video “Hollywood” milik diva pop yang selalu tampil sensual dalam tiap video musiknya menggambarkan gemerlap Hollywood yang artis-artisnya gila akan kehidupan glamor, skin-lifting, operasi plastik demi keelokan tubuhnya. Fetish memang!
Setiap orang tahu Hollywood, adalah industri perfilman yang merajai pasarnya di seluruh dunia. Michael R. Real menyampaikan joke sebagai berikut:
You live in Rome and want to see a good movie. You jump on your Vespa and head to the cinema, thinking, “Italy, the home of Fellini, Antonioni, Bertolucci … Great cinema.” The local theater is playing … Stallone and Schwarzenegger. (Real, 1996: 148)
Begitu mudah mendapatkan film-film produksi Hollywood di bioskop, tidak lain di Indonesia yang saat ini sudah begitu mudah mendapatkan film dalam bentuk DVD dan VCD yang dapat dengan mudah pula menikmati home-theater. Itu baru sekedar media, belum pesan yang terdapat didalamnya, yang sering menjajah kesadaran berpikir penonton sehingga berpengaruh pula secara global.
Dari deretan film Superman, Batman, Spiderman, XXX, jelas mempresentasikan pahlawan laki-laki dengan ciri WASP (White, Anglo-Saxon, Protestant). Bandingkan dengan film berikut: Kill Bill, Electra, Legally Blonde dan Legally Blonde 2. Tokoh utamanya adalah wanita, berambut pirang, langsing, mempunyai kelebihan disbanding wanita lain didalam film tersebut. Menarik mengamati film yang disebutkan terakhir; pasalnya tidak ada wanita pirang lain selain si tokoh utama. Padahal jika kita melihat kenyataan orang Amerika banyak sekali yang berambut pirang. Hegemoni apa yang ingin dilancarkan oleh Hollywood?
Produksi Media … atau Hegemoni
Antonio Gramsci berpendapat bahwa hegemoni itu kuat tetapi hegemoni bukan merupakan pengaruh yang bergerak sendiri dari alat control budaya dominan terhadap kelompok massa yang mempunyai kekuatan dibawahnya. (29). Hollywood memproduksi film dan musik, dan juga memproduksi budaya. Adakah film Hollywood yang tidak membawa dampak terhadap budaya? Contoh kecil saja, wanita mana yang tidak kebingungan melihat angka timbangannya naik dengan cepat setelah menonton “Shallow Hall”? Laki-laki mana yang tidak terusik dengan ejekan dari teman atau pacarnya mengatakan dia krempeng setelah menyaksikan Vin Diesel dalam “XXX”?
Real juga memberikan spesifikasi terhadap hegemoni budaya, yaitu dominasi dari satu kelompok satu terhadap kelompok lain melalui produk media. (157). Tak perlu dipertanyakan lagi bahwa film produksi Hollywood mengandung unsur hegemoni atau tidak. Cukup jelas dengan contoh diatas.
Begitu kuatnya dominasi Hollywood dalam produksi film mempengaruhi ajang penghargaan perfilman seperti Academi Award, MTV Award. Banyak kategori yang diperebutkan dalam ajang bergengsi tersebut. Siapa yang keluar jadi pemenang? … produk-produk dari Hollywood tentunya yang mendominasi.
Pihak yang ikut dalam lingkaran setan Hollywood ini tidak lain dan tidak bukan adalah aktor dan aktrisnya. Mereka adalah komoditas Hollywood, dan control terhadap pasokan aktor dan aktris dipegang oleh suatu wadah yang memberlakukan control jangka panjang dengan standar Hollywood tentunya. (Sklar, 1994: 230).
Mengintip Dapur Hollywood
Di Indonesia, kita mengenal StarVision yang memproduksi banyak sinetron. Industri media ini memberlakukan standar bagi bintang wanita harus kurus, semampai, berparas cantik, berpakaian you can see, seakan-akan tidak ada wanita yang jelek di Indonesia. Pertanyaannya apakah wanita di Indonesia adalah seperti apa yang ditampilkan di TV? Atau haruskah wanita Indonesia mengikuti standar itu?
Seorang teman dari Jepang belajar di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), menemukan banyak mahasiswi dengan pakaian tertutup bahkan banyak yang mengenakan jilbab. Dia menyimpulkan,”Saya pikir gadis-gadis Indonesia berpakaian seperti di serial TV, ternyata tidak.”
Lain lagi dengan teman saya dari Amerika. Dia meyakinkan saya bahwa orang-orang di Amerika tidaka seperti apa yang disajikan di film Hollywood. Banyak wanita Amerika yang tidak seksi, banyak juga yang tidak mengartikan cantik melalui tubuh.
Steven Spielberg dan Bernando Bertolucci adalah sutradara ternama dan mereka adalah laki-laki. Amati nama-nama kamerawan, editor, penulis scenario, dan posisi lain dalam produksi film saat film yang Anda tonton berakhir. Dominasi laki-laki dengan jelas kita baca dari itu. Hal tersebut menghasilkan “The Male Gaze” yang memaksa penonton mempersepsikan suatu obyek seperti apa yang diinginkan mereka. Ideology patriaki dalam film Hollywood klasik menghasilkan film-film yang merepresentasikan tokoh laki-laki sebagai aktif, bermacam-macam karakteristik, dan banyak. Sedangkan wanita direpresentasikan pasif, karakteristiknya seragam, dan lebih sedikit jumlahnya dibandingkan peran laki-laki. (Real: 176)
Cara perepresentasian Hollywood ini mulai pudar di abad 21. perhatikan Cat Woman, Kill Bill, Ms Congeniality, Legally Blonde. Karakter pasif mulai ditinggalkan; wanita mulai menjadi orang yang penting seperti sebagai pahlawan, intelektual, dan peran positif lainnya.
Pirang … Langsing … Cantik … Hebat
Legally Blonde terbilang film Hollywood yang sukses. Diproduksi pada saat gadis Amerika yang berambut pirang loose identity karena marak istilah dumb blonde. Tahun 2004 Legally Blonde 2 diedarkan.
Siapa yang tidak mengenal Britney Spears dengan hit perdananya “…Baby One More Time”? Dilanjutkan dengan rivalnya Christina Aguilera, julukan teen idol membahana. Bagaimana tidak kedua penyanyi pop itu memang berhasil menembus pasar musik remaja dan menjadi teratas. Tahun 1998 merupakan awal Teen Choice Award masuk ke barisan budaya pop tersebut, dan Britney menjadi ratunya dengan memenangkan berbagai kategori di ajang penghargaan yang khusus untu anak-anak remaja Amerika.
Kalangan musik heboh setelah tahu Britney sering membawakan lagunya dengan lipsync. Penyanyi remaja dengan kriteria 3B (Blonde, Bust, Beauty) mulai menurun popularitasnya sehingga membentuk pemikiran bahwa gadis pirang, berdada besar, itu bodoh—dikenal dengan dumb blonde. Mulai tahun 1999 sampai 2000 banyak gadis Amerika berambut pirang yang mengecat rambutnya dengan warna lebih gelap.
Film ini bermaksud membebaskan kesadaran itu, bahwa pirang bukanlah bodoh. Peran utama dipoles seperti Barbie—lambang kecantikan—dengan busana yang didominasi pink dan modis. Aneh memang, dan tampak ideologi Barbie diumbar disana. Tidak ada gadis yang berambut pirang selain peran utama tersebut. Dia dari fisik cantik, dan intelektual juga luar biasa.
Akan tetapi cantik di Legally Blonde 1 dan 2 adalah cantik ukuran Barat dengan kulit putih, pirang, langsing dan tinggi semampai. Gadis disekitarnya diperankan oleh aktris berambut burnet dan mereka biasa-biasa saja dan justru akhirnya dapat ditakhlukkan olehnya.
SUMBER
• Real, Michael. (1996). Exploring Media Culture: A Guide. Thousand Oaks: Sage Publications.
• Sklar, Robert. (1994). Movie-Made America. New York: Vintage.
• sosiologikomunikasi.blogspot.com
Everybody comes to Hollywood
They wanna make it in the neighbourhood
They like the smell of it in Hollywood
How could it hurt you when it looks so good?
Shine your light now
This time it's got to be good
You get it right now
Cause you're in Hollywood
There's something in the air in Hollywood
The sun is shining like you knew it would
You're riding in your car in Hollywood
You got the top down and it feels so good
I lost my memory in Hollywood
I've had a million visions bad and good
There's something in the air in Hollywood
I tried to leave it but I never could
Music stations always play the same songs
I'm bored with the concept of right and wrong (Madonna, Hollywood)
Apakah yang diceritakan oleh lagu diatas? Pasti, Hollywood yang glamor, berpengaruh, dan setiap orang mengikutinya. Coba amati video musiknya yang vulgar. Didalam video itu ditampilkan Madonna dengan pakaian (maaf) pelacur Amerika—seperti pakaian renang—dengan stocking jala hitam meliuk-liukkan tubuhnya sesuai apa yang dikenakan. Pada bagian akhir, diperlihatkan wajah Madonna ditusuk-tusuk dengan jarum suntik oleh tangan-tangan dengan lengan baju putih-putih. Lirik dan video “Hollywood” milik diva pop yang selalu tampil sensual dalam tiap video musiknya menggambarkan gemerlap Hollywood yang artis-artisnya gila akan kehidupan glamor, skin-lifting, operasi plastik demi keelokan tubuhnya. Fetish memang!
Setiap orang tahu Hollywood, adalah industri perfilman yang merajai pasarnya di seluruh dunia. Michael R. Real menyampaikan joke sebagai berikut:
You live in Rome and want to see a good movie. You jump on your Vespa and head to the cinema, thinking, “Italy, the home of Fellini, Antonioni, Bertolucci … Great cinema.” The local theater is playing … Stallone and Schwarzenegger. (Real, 1996: 148)
Begitu mudah mendapatkan film-film produksi Hollywood di bioskop, tidak lain di Indonesia yang saat ini sudah begitu mudah mendapatkan film dalam bentuk DVD dan VCD yang dapat dengan mudah pula menikmati home-theater. Itu baru sekedar media, belum pesan yang terdapat didalamnya, yang sering menjajah kesadaran berpikir penonton sehingga berpengaruh pula secara global.
Dari deretan film Superman, Batman, Spiderman, XXX, jelas mempresentasikan pahlawan laki-laki dengan ciri WASP (White, Anglo-Saxon, Protestant). Bandingkan dengan film berikut: Kill Bill, Electra, Legally Blonde dan Legally Blonde 2. Tokoh utamanya adalah wanita, berambut pirang, langsing, mempunyai kelebihan disbanding wanita lain didalam film tersebut. Menarik mengamati film yang disebutkan terakhir; pasalnya tidak ada wanita pirang lain selain si tokoh utama. Padahal jika kita melihat kenyataan orang Amerika banyak sekali yang berambut pirang. Hegemoni apa yang ingin dilancarkan oleh Hollywood?
Produksi Media … atau Hegemoni
Antonio Gramsci berpendapat bahwa hegemoni itu kuat tetapi hegemoni bukan merupakan pengaruh yang bergerak sendiri dari alat control budaya dominan terhadap kelompok massa yang mempunyai kekuatan dibawahnya. (29). Hollywood memproduksi film dan musik, dan juga memproduksi budaya. Adakah film Hollywood yang tidak membawa dampak terhadap budaya? Contoh kecil saja, wanita mana yang tidak kebingungan melihat angka timbangannya naik dengan cepat setelah menonton “Shallow Hall”? Laki-laki mana yang tidak terusik dengan ejekan dari teman atau pacarnya mengatakan dia krempeng setelah menyaksikan Vin Diesel dalam “XXX”?
Real juga memberikan spesifikasi terhadap hegemoni budaya, yaitu dominasi dari satu kelompok satu terhadap kelompok lain melalui produk media. (157). Tak perlu dipertanyakan lagi bahwa film produksi Hollywood mengandung unsur hegemoni atau tidak. Cukup jelas dengan contoh diatas.
Begitu kuatnya dominasi Hollywood dalam produksi film mempengaruhi ajang penghargaan perfilman seperti Academi Award, MTV Award. Banyak kategori yang diperebutkan dalam ajang bergengsi tersebut. Siapa yang keluar jadi pemenang? … produk-produk dari Hollywood tentunya yang mendominasi.
Pihak yang ikut dalam lingkaran setan Hollywood ini tidak lain dan tidak bukan adalah aktor dan aktrisnya. Mereka adalah komoditas Hollywood, dan control terhadap pasokan aktor dan aktris dipegang oleh suatu wadah yang memberlakukan control jangka panjang dengan standar Hollywood tentunya. (Sklar, 1994: 230).
Mengintip Dapur Hollywood
Di Indonesia, kita mengenal StarVision yang memproduksi banyak sinetron. Industri media ini memberlakukan standar bagi bintang wanita harus kurus, semampai, berparas cantik, berpakaian you can see, seakan-akan tidak ada wanita yang jelek di Indonesia. Pertanyaannya apakah wanita di Indonesia adalah seperti apa yang ditampilkan di TV? Atau haruskah wanita Indonesia mengikuti standar itu?
Seorang teman dari Jepang belajar di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), menemukan banyak mahasiswi dengan pakaian tertutup bahkan banyak yang mengenakan jilbab. Dia menyimpulkan,”Saya pikir gadis-gadis Indonesia berpakaian seperti di serial TV, ternyata tidak.”
Lain lagi dengan teman saya dari Amerika. Dia meyakinkan saya bahwa orang-orang di Amerika tidaka seperti apa yang disajikan di film Hollywood. Banyak wanita Amerika yang tidak seksi, banyak juga yang tidak mengartikan cantik melalui tubuh.
Steven Spielberg dan Bernando Bertolucci adalah sutradara ternama dan mereka adalah laki-laki. Amati nama-nama kamerawan, editor, penulis scenario, dan posisi lain dalam produksi film saat film yang Anda tonton berakhir. Dominasi laki-laki dengan jelas kita baca dari itu. Hal tersebut menghasilkan “The Male Gaze” yang memaksa penonton mempersepsikan suatu obyek seperti apa yang diinginkan mereka. Ideology patriaki dalam film Hollywood klasik menghasilkan film-film yang merepresentasikan tokoh laki-laki sebagai aktif, bermacam-macam karakteristik, dan banyak. Sedangkan wanita direpresentasikan pasif, karakteristiknya seragam, dan lebih sedikit jumlahnya dibandingkan peran laki-laki. (Real: 176)
Cara perepresentasian Hollywood ini mulai pudar di abad 21. perhatikan Cat Woman, Kill Bill, Ms Congeniality, Legally Blonde. Karakter pasif mulai ditinggalkan; wanita mulai menjadi orang yang penting seperti sebagai pahlawan, intelektual, dan peran positif lainnya.
Pirang … Langsing … Cantik … Hebat
Legally Blonde terbilang film Hollywood yang sukses. Diproduksi pada saat gadis Amerika yang berambut pirang loose identity karena marak istilah dumb blonde. Tahun 2004 Legally Blonde 2 diedarkan.
Siapa yang tidak mengenal Britney Spears dengan hit perdananya “…Baby One More Time”? Dilanjutkan dengan rivalnya Christina Aguilera, julukan teen idol membahana. Bagaimana tidak kedua penyanyi pop itu memang berhasil menembus pasar musik remaja dan menjadi teratas. Tahun 1998 merupakan awal Teen Choice Award masuk ke barisan budaya pop tersebut, dan Britney menjadi ratunya dengan memenangkan berbagai kategori di ajang penghargaan yang khusus untu anak-anak remaja Amerika.
Kalangan musik heboh setelah tahu Britney sering membawakan lagunya dengan lipsync. Penyanyi remaja dengan kriteria 3B (Blonde, Bust, Beauty) mulai menurun popularitasnya sehingga membentuk pemikiran bahwa gadis pirang, berdada besar, itu bodoh—dikenal dengan dumb blonde. Mulai tahun 1999 sampai 2000 banyak gadis Amerika berambut pirang yang mengecat rambutnya dengan warna lebih gelap.
Film ini bermaksud membebaskan kesadaran itu, bahwa pirang bukanlah bodoh. Peran utama dipoles seperti Barbie—lambang kecantikan—dengan busana yang didominasi pink dan modis. Aneh memang, dan tampak ideologi Barbie diumbar disana. Tidak ada gadis yang berambut pirang selain peran utama tersebut. Dia dari fisik cantik, dan intelektual juga luar biasa.
Akan tetapi cantik di Legally Blonde 1 dan 2 adalah cantik ukuran Barat dengan kulit putih, pirang, langsing dan tinggi semampai. Gadis disekitarnya diperankan oleh aktris berambut burnet dan mereka biasa-biasa saja dan justru akhirnya dapat ditakhlukkan olehnya.
SUMBER
• Real, Michael. (1996). Exploring Media Culture: A Guide. Thousand Oaks: Sage Publications.
• Sklar, Robert. (1994). Movie-Made America. New York: Vintage.
• sosiologikomunikasi.blogspot.com

