Wednesday, May 04, 2005
EKSPLOITASI TUBUH PRIA DAN WANITA DALAM PERKEMBANGAN FILM INDONESIA
Oleh : Rochmad Zulfianur
Bangkitnya perfilman Indonesia pada awal millennium atau awal tahun 2000, yang digebrak oleh film pertama karya sineas muda Indonesia Mira Lesmana yaitu Petualangan Sherina dan Ada Apa Dengan Cinta membawa peluang besar bagi remaja atau pemuda Indonesia yang sedang bergelut di dunia broadcasting, sebut saja Dian Sastro yang awalnya bukan berasal dari dunia broadcasting, namun karena dia memiliki tubuh yang modern, memiliki wajah yang Indonesia dan berkulit sawo matang, maka mendapatkan kesempatan berkarir di industri perfilman Indonesia.
Bila dilihat dari perkembangan film Indonesia tempo dulu yaitu dimasa kejayaan perfilman Indonesia, era 1970 hingga 1990. wanita direpresentasikan sebagai wanita yang dihormati, disanjung dan memiliki sifat yang halus. Pada prilaku biasanya ditonjolkan yang sederhana, pemalu dan secara fisik berwajah Indonesia dan berkulit sawo matang serta menutupi tubuhnya dengan hanya dibalut kemben. Hal semacam ini dapat kita saksikan pada film – film kolosal Indonesia seperti Tutur Tinular, Saur Sepuh, Pitung, dll. Sedangkan tubuh modern pria digambarkan secara fisik, berotot, berbadan besar, bisa silat bahkan memiliki tenaga dalam.
Walaupun ada juga film Indonesia yang menampilkan adegan kekerasan terhadap wanita maupun seksualitas namun dikemas secara santun karena nuansa ketimuran masih kental sekali dirasakan. Kembali di era saat ini tubuh modern yang laku dipasaran yaitu tubuh yang memiliki sex appeal, langsing, putih dan berwajah oriental atau Eropa. Sedangkan laki – laki yang dianggap bertubuh modern yaitu laki – laki yang memiliki six pack, macho, tinggi, berambut pendek / cepak. Selain itu wanita pada film kontemporer direpresentasikan sebagai wanita yang tangguh, mandiri, pekerja keras dan berani contohnya pada film Daun Diatas Bantal, Pasir Berbisik yang diperankan oleh christin Hakim. Lain lagi ceritanya wanita sebagai subyek dan pria obyeknya ini diambil dari sebuah adegan film Virgin, dimana pria dilelang untuk diperebutkan oleh para wanita dari sebuah acara ulang tahun. Perilaku dalam film Virgin inipun bisa dikatakan sangat luar biasa karena ditampilkan remaja SMU yang merokok, bertato dan berpakaian minim serta tutur bahasa yang kasar. Tubuhnya jelas saja seksi dan ada yang berwajah oriental.
Sedangkan pada film Brownies dan Arisan digambarkan wanita kelas atas dengan gaya hidup serba wah dan menggunakan pakaian serta asesoris yang bermerk, kemudian wanita direpresentasikan sebagai wanita karir dan memiliki sensitivitas yang tinggi sehingga mudah emosional. Lagi – lagi pria dijadikan obyek pada film Arisan dimana ada seorang pria sebagai guru les bahasa Itali yang menjadi pilihan ibu – ibu yang tergabung dalam kelompok arisan untuk dijadikan flirting atau berhubungan tanpa perasaan. Pria ini berpostur tubuh ideal, putih, tinggi, klimis, pintar dan maskulin. Selain itu peran utama pria dalam film Arisan Tora Sudiro juga digambarkan sebagai sosok yang tampan, pinter, bisa bermain musik, professional muda dan six pack selain itu tora juga digambarkan sebagai pria metroseksual yaitu pria yang suka dengan perawatan tubuh,seperti pergi ke salon, spa bahkan luluran.
Pada film Buruan Cium Gue juga dicitrakan tokoh wanita yang sangat agresif dan berpenampilan seksi. Terjadinya pemilihan tubuh modern ini bisa disebabkan karena pengaruh media seperti Televisi, Film, Internet dari luar negeri / western. Sehingga membawa implikasi pada masyarakat Indonesia dan masyarakat Indonesia sudah kehilangan nuansa atau adat ketimurannya karena kebanyakan mengkonsumsi gaya hidup serta fashion orang – orang eropa atau western. Hal inipulalah yang mengakibatkan para pemain industri perfilman memilih tubuh modern dengan mengeksploitasi tubuh pria dan wanita yang masuk kategori tubuh modern karena laku dipasaran dan menjual sehingga menguntungkan para pemain industri perfilman tersebut.
Sedangkan tubuh yang secara fisik seperti gendut, kurus berkulit gelap atau hitam dijadikan peran pembantu dan menjadi peran ejekan atau lelucon serta hanya untuk memberikan warna lain pada film – film tersebut. selain itu tubuh pria dan wanita yang dieksploitasi untuk keperluan film, juga diimitasi pada masyarakat kebanyakan yang akhirnya menjadi trendsetter dan modern.
Representasi tubuh modern dalam film Indonesia masih banyak dipermasalahkan karena bentuk pengemasannya yang vulgar sehingga terlalu ekstrim untuk ditayangkan selain itu tata bahasa atau dialog yang digunakan juga kasar selain itu adegan ciuman juga sempat dipermasalahkan, adegan yang dimulai dari film Ada Apa Dengan Cinta hinggga film Buruan Cium Gue yang sangat diprotes karena pengemasan filmnya yang terlalu vulgar. Hal ini jelaslah sangat melanggar etika dan norma sosial yang berlaku di Negara ini. Miris, itulah ungkapan suasana hati yang berasal dari ranah jawa yang merepresentasikan perasaan sedih, prihatin campur kecewa yang menjadi satu atas problematika perfilman Indonesia yang melanggar etika dan norma yang ada.
Penulis : Rochmad Zulfiannur, mahasiswa aktif Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Ketua Umum Cinema Komunikasi ( CIKO ) Yogya.
Bangkitnya perfilman Indonesia pada awal millennium atau awal tahun 2000, yang digebrak oleh film pertama karya sineas muda Indonesia Mira Lesmana yaitu Petualangan Sherina dan Ada Apa Dengan Cinta membawa peluang besar bagi remaja atau pemuda Indonesia yang sedang bergelut di dunia broadcasting, sebut saja Dian Sastro yang awalnya bukan berasal dari dunia broadcasting, namun karena dia memiliki tubuh yang modern, memiliki wajah yang Indonesia dan berkulit sawo matang, maka mendapatkan kesempatan berkarir di industri perfilman Indonesia.
Bila dilihat dari perkembangan film Indonesia tempo dulu yaitu dimasa kejayaan perfilman Indonesia, era 1970 hingga 1990. wanita direpresentasikan sebagai wanita yang dihormati, disanjung dan memiliki sifat yang halus. Pada prilaku biasanya ditonjolkan yang sederhana, pemalu dan secara fisik berwajah Indonesia dan berkulit sawo matang serta menutupi tubuhnya dengan hanya dibalut kemben. Hal semacam ini dapat kita saksikan pada film – film kolosal Indonesia seperti Tutur Tinular, Saur Sepuh, Pitung, dll. Sedangkan tubuh modern pria digambarkan secara fisik, berotot, berbadan besar, bisa silat bahkan memiliki tenaga dalam.
Walaupun ada juga film Indonesia yang menampilkan adegan kekerasan terhadap wanita maupun seksualitas namun dikemas secara santun karena nuansa ketimuran masih kental sekali dirasakan. Kembali di era saat ini tubuh modern yang laku dipasaran yaitu tubuh yang memiliki sex appeal, langsing, putih dan berwajah oriental atau Eropa. Sedangkan laki – laki yang dianggap bertubuh modern yaitu laki – laki yang memiliki six pack, macho, tinggi, berambut pendek / cepak. Selain itu wanita pada film kontemporer direpresentasikan sebagai wanita yang tangguh, mandiri, pekerja keras dan berani contohnya pada film Daun Diatas Bantal, Pasir Berbisik yang diperankan oleh christin Hakim. Lain lagi ceritanya wanita sebagai subyek dan pria obyeknya ini diambil dari sebuah adegan film Virgin, dimana pria dilelang untuk diperebutkan oleh para wanita dari sebuah acara ulang tahun. Perilaku dalam film Virgin inipun bisa dikatakan sangat luar biasa karena ditampilkan remaja SMU yang merokok, bertato dan berpakaian minim serta tutur bahasa yang kasar. Tubuhnya jelas saja seksi dan ada yang berwajah oriental.
Sedangkan pada film Brownies dan Arisan digambarkan wanita kelas atas dengan gaya hidup serba wah dan menggunakan pakaian serta asesoris yang bermerk, kemudian wanita direpresentasikan sebagai wanita karir dan memiliki sensitivitas yang tinggi sehingga mudah emosional. Lagi – lagi pria dijadikan obyek pada film Arisan dimana ada seorang pria sebagai guru les bahasa Itali yang menjadi pilihan ibu – ibu yang tergabung dalam kelompok arisan untuk dijadikan flirting atau berhubungan tanpa perasaan. Pria ini berpostur tubuh ideal, putih, tinggi, klimis, pintar dan maskulin. Selain itu peran utama pria dalam film Arisan Tora Sudiro juga digambarkan sebagai sosok yang tampan, pinter, bisa bermain musik, professional muda dan six pack selain itu tora juga digambarkan sebagai pria metroseksual yaitu pria yang suka dengan perawatan tubuh,seperti pergi ke salon, spa bahkan luluran.
Pada film Buruan Cium Gue juga dicitrakan tokoh wanita yang sangat agresif dan berpenampilan seksi. Terjadinya pemilihan tubuh modern ini bisa disebabkan karena pengaruh media seperti Televisi, Film, Internet dari luar negeri / western. Sehingga membawa implikasi pada masyarakat Indonesia dan masyarakat Indonesia sudah kehilangan nuansa atau adat ketimurannya karena kebanyakan mengkonsumsi gaya hidup serta fashion orang – orang eropa atau western. Hal inipulalah yang mengakibatkan para pemain industri perfilman memilih tubuh modern dengan mengeksploitasi tubuh pria dan wanita yang masuk kategori tubuh modern karena laku dipasaran dan menjual sehingga menguntungkan para pemain industri perfilman tersebut.
Sedangkan tubuh yang secara fisik seperti gendut, kurus berkulit gelap atau hitam dijadikan peran pembantu dan menjadi peran ejekan atau lelucon serta hanya untuk memberikan warna lain pada film – film tersebut. selain itu tubuh pria dan wanita yang dieksploitasi untuk keperluan film, juga diimitasi pada masyarakat kebanyakan yang akhirnya menjadi trendsetter dan modern.
Representasi tubuh modern dalam film Indonesia masih banyak dipermasalahkan karena bentuk pengemasannya yang vulgar sehingga terlalu ekstrim untuk ditayangkan selain itu tata bahasa atau dialog yang digunakan juga kasar selain itu adegan ciuman juga sempat dipermasalahkan, adegan yang dimulai dari film Ada Apa Dengan Cinta hinggga film Buruan Cium Gue yang sangat diprotes karena pengemasan filmnya yang terlalu vulgar. Hal ini jelaslah sangat melanggar etika dan norma sosial yang berlaku di Negara ini. Miris, itulah ungkapan suasana hati yang berasal dari ranah jawa yang merepresentasikan perasaan sedih, prihatin campur kecewa yang menjadi satu atas problematika perfilman Indonesia yang melanggar etika dan norma yang ada.
Penulis : Rochmad Zulfiannur, mahasiswa aktif Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Ketua Umum Cinema Komunikasi ( CIKO ) Yogya.

