Saturday, May 07, 2005

 

“HOLLYWOOD BANGET”

(Hegemoni barat/Film Hollywood pada film Indonesia)

Oleh :Ari Kusmiadi (peserta mata kuliah sosiologi komunikasi UMY, NIM
20030530209)

Sekilas mengenai Film, film merupakan rangkaian gambar yang diproyeksikan dengan kecepatan 24 bingkai per detik sehingga gambar tampak hidup, setiap gambar dari rangkaian tersebut dengan mudah dapat kita kenali dengan mata telanjang. Karena bumbu-bumbu cerita yang sangat memikat, yang di dukung oleh visual dan audio seakan itu benar-benar terjadi, penonton pun terlena dibuatnya.
Dewasa ini, setelah seperempat abad lebih masyarakat Indonesia telah mengenal media tersebut. Awalnya film (fiksi maupun non fiksi) merupakan tontonan yang bersifat menghibur, tak heran bila masyarakat di mana pun menyukainya, namun mengikuti perkembangan yang terjadi selain dapat mengembungkan isi kantong/efek ekonomis dari media (Steven H. Chaffee), film juga sudah mulai di tunggangi politik yang efeknya tampa kita sadari. Hal itu yang nampak jelas pada Film-film Amerika/Hollywood sekaligus trendsetter perfilman. Sekarang, khususnya pada kalangan mahasiswa sedikitnya telah menyadari akan hal itu. Dan bahkan mulai mengkritisinya.
Masalah yang menyimpan tanda Tanya yaitu dalam hal style/gaya cara mengemas suatu film, termasuk isi cerita film Indonesia yang kebanyakan mengekor ke film Hollywood. Beda dengan film-film lainnya yang masih di Asia, misal Film Bollywood, film Tailan, film Malaysia, mereka punya gaya sendiri. Mulai dari cerita-cerita sederhana dan klasik, sampai pada pengemasan yang simple dan pesan dapat sampai ke penonton. “Bukan masalah ketinggalan atau tidak mengikuti perkembangan film, selain hanya untuk berkarya mereka juga memperhatikan norma-norma dan nilai-nilai budaya yang ada juga mempunyai tanggung jawab moral akan efeknya pada masyarakat dari film tersebut”, kata salah satu sutradara film Malaysia Mr.Odeng yang kebetulan lagi shooting di Jogja.
Tailan dengan cerita mistery dan horornya tak tepas dari kebudayaannya. Ada pun film Bollywood meski niatnya untuk mencari keuntungan tetapi mereka tidak pernah lepas dengan budaya dan gaya di isi ceritanya yang selalu menampilkan nyanyian.
Indonesia ?. pernah mencapai era emas di tahun 1992-an, namun setelah itu mengalami surut dengan munculnya statsiun-statsiun televisi swasta. Mulai bangkit lagi dengan cerita cosmopolitannya yang berhasil mendobrak pasarnya di dalam negri, sayangnya terinfeksi budaya Poskolonial (pasca colonial), yang di mana tadinya bermaksud merubah dan menggeser cerita-cerita yang cenderung monoton dan bertele-tele dan tidak sesuai dengan nilai budaya Indonesia, misal cerita-cerita yang menampilkan berbau semi porno (layar lebar), percintaan yang terlalu di dramatisir dan budaya elite (sinetron), namun dengan mengangkat cerita dan menampilkan kemasan baru malah mendatangkan budaya baru lagi, dimana nilai-nilai budaya dapat tergeser. Contoh : Virgin dan Buruan Cium Gue, cerita dan gaya kemasan yang kebarat-baratan yang mengangkat cerita sisi gelap dari remaja metropolitan/kaum burjois serta menampilkan adegan-adegan yang tidak perlu, misal ciuman dan hubungan sex di kalangan remaja, seperti halnya film Hollywood.
Hal ini sesuai dengan budaya poskolonial telah merubah struktur budaya Indonesia dan menghilangkan identitas nasional yang di miliki Indonesia selama ini. Jika hal ini terus berlanjut, bagaimana dengan generasi-generasi bangsa ini nantinya. Apakah kita akan membiarkan mereka akan kehilangan identitas budaya asli kita oleh sentuhan-sentuhan budaya poskolonial yang dibawa melalui film-film berbau Hollywoodl yang saat ini banyak bergentayangan di dunia perfilman bangsa kita ini.


Referensi :

• P.C.S. Sutisno (1993), “Pedoman Praktis Penulisan Skenario Televisi dan Video”, Grasindo, Jakarta
• Talk Show “Pemutaran Film SEPET (film Malaysia)+ Temu Sutradara”, Kampus Terpadu UMY, 7 April 2005

Comments:
Hollywood plus film banget gitu loo...its interesting
 
Post a Comment

<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?