Saturday, May 07, 2005
“HOLLYWOOD BANGET”
(Hegemoni barat/Film Hollywood pada film Indonesia)
Oleh :Ari Kusmiadi (peserta mata kuliah sosiologi komunikasi UMY, NIM
20030530209)
Sekilas mengenai Film, film merupakan rangkaian gambar yang diproyeksikan dengan kecepatan 24 bingkai per detik sehingga gambar tampak hidup, setiap gambar dari rangkaian tersebut dengan mudah dapat kita kenali dengan mata telanjang. Karena bumbu-bumbu cerita yang sangat memikat, yang di dukung oleh visual dan audio seakan itu benar-benar terjadi, penonton pun terlena dibuatnya.
Dewasa ini, setelah seperempat abad lebih masyarakat Indonesia telah mengenal media tersebut. Awalnya film (fiksi maupun non fiksi) merupakan tontonan yang bersifat menghibur, tak heran bila masyarakat di mana pun menyukainya, namun mengikuti perkembangan yang terjadi selain dapat mengembungkan isi kantong/efek ekonomis dari media (Steven H. Chaffee), film juga sudah mulai di tunggangi politik yang efeknya tampa kita sadari. Hal itu yang nampak jelas pada Film-film Amerika/Hollywood sekaligus trendsetter perfilman. Sekarang, khususnya pada kalangan mahasiswa sedikitnya telah menyadari akan hal itu. Dan bahkan mulai mengkritisinya.
Masalah yang menyimpan tanda Tanya yaitu dalam hal style/gaya cara mengemas suatu film, termasuk isi cerita film Indonesia yang kebanyakan mengekor ke film Hollywood. Beda dengan film-film lainnya yang masih di Asia, misal Film Bollywood, film Tailan, film Malaysia, mereka punya gaya sendiri. Mulai dari cerita-cerita sederhana dan klasik, sampai pada pengemasan yang simple dan pesan dapat sampai ke penonton. “Bukan masalah ketinggalan atau tidak mengikuti perkembangan film, selain hanya untuk berkarya mereka juga memperhatikan norma-norma dan nilai-nilai budaya yang ada juga mempunyai tanggung jawab moral akan efeknya pada masyarakat dari film tersebut”, kata salah satu sutradara film Malaysia Mr.Odeng yang kebetulan lagi shooting di Jogja.
Tailan dengan cerita mistery dan horornya tak tepas dari kebudayaannya. Ada pun film Bollywood meski niatnya untuk mencari keuntungan tetapi mereka tidak pernah lepas dengan budaya dan gaya di isi ceritanya yang selalu menampilkan nyanyian.
Indonesia ?. pernah mencapai era emas di tahun 1992-an, namun setelah itu mengalami surut dengan munculnya statsiun-statsiun televisi swasta. Mulai bangkit lagi dengan cerita cosmopolitannya yang berhasil mendobrak pasarnya di dalam negri, sayangnya terinfeksi budaya Poskolonial (pasca colonial), yang di mana tadinya bermaksud merubah dan menggeser cerita-cerita yang cenderung monoton dan bertele-tele dan tidak sesuai dengan nilai budaya Indonesia, misal cerita-cerita yang menampilkan berbau semi porno (layar lebar), percintaan yang terlalu di dramatisir dan budaya elite (sinetron), namun dengan mengangkat cerita dan menampilkan kemasan baru malah mendatangkan budaya baru lagi, dimana nilai-nilai budaya dapat tergeser. Contoh : Virgin dan Buruan Cium Gue, cerita dan gaya kemasan yang kebarat-baratan yang mengangkat cerita sisi gelap dari remaja metropolitan/kaum burjois serta menampilkan adegan-adegan yang tidak perlu, misal ciuman dan hubungan sex di kalangan remaja, seperti halnya film Hollywood.
Hal ini sesuai dengan budaya poskolonial telah merubah struktur budaya Indonesia dan menghilangkan identitas nasional yang di miliki Indonesia selama ini. Jika hal ini terus berlanjut, bagaimana dengan generasi-generasi bangsa ini nantinya. Apakah kita akan membiarkan mereka akan kehilangan identitas budaya asli kita oleh sentuhan-sentuhan budaya poskolonial yang dibawa melalui film-film berbau Hollywoodl yang saat ini banyak bergentayangan di dunia perfilman bangsa kita ini.
Referensi :
• P.C.S. Sutisno (1993), “Pedoman Praktis Penulisan Skenario Televisi dan Video”, Grasindo, Jakarta
• Talk Show “Pemutaran Film SEPET (film Malaysia)+ Temu Sutradara”, Kampus Terpadu UMY, 7 April 2005
•
Oleh :Ari Kusmiadi (peserta mata kuliah sosiologi komunikasi UMY, NIM
20030530209)
Sekilas mengenai Film, film merupakan rangkaian gambar yang diproyeksikan dengan kecepatan 24 bingkai per detik sehingga gambar tampak hidup, setiap gambar dari rangkaian tersebut dengan mudah dapat kita kenali dengan mata telanjang. Karena bumbu-bumbu cerita yang sangat memikat, yang di dukung oleh visual dan audio seakan itu benar-benar terjadi, penonton pun terlena dibuatnya.
Dewasa ini, setelah seperempat abad lebih masyarakat Indonesia telah mengenal media tersebut. Awalnya film (fiksi maupun non fiksi) merupakan tontonan yang bersifat menghibur, tak heran bila masyarakat di mana pun menyukainya, namun mengikuti perkembangan yang terjadi selain dapat mengembungkan isi kantong/efek ekonomis dari media (Steven H. Chaffee), film juga sudah mulai di tunggangi politik yang efeknya tampa kita sadari. Hal itu yang nampak jelas pada Film-film Amerika/Hollywood sekaligus trendsetter perfilman. Sekarang, khususnya pada kalangan mahasiswa sedikitnya telah menyadari akan hal itu. Dan bahkan mulai mengkritisinya.
Masalah yang menyimpan tanda Tanya yaitu dalam hal style/gaya cara mengemas suatu film, termasuk isi cerita film Indonesia yang kebanyakan mengekor ke film Hollywood. Beda dengan film-film lainnya yang masih di Asia, misal Film Bollywood, film Tailan, film Malaysia, mereka punya gaya sendiri. Mulai dari cerita-cerita sederhana dan klasik, sampai pada pengemasan yang simple dan pesan dapat sampai ke penonton. “Bukan masalah ketinggalan atau tidak mengikuti perkembangan film, selain hanya untuk berkarya mereka juga memperhatikan norma-norma dan nilai-nilai budaya yang ada juga mempunyai tanggung jawab moral akan efeknya pada masyarakat dari film tersebut”, kata salah satu sutradara film Malaysia Mr.Odeng yang kebetulan lagi shooting di Jogja.
Tailan dengan cerita mistery dan horornya tak tepas dari kebudayaannya. Ada pun film Bollywood meski niatnya untuk mencari keuntungan tetapi mereka tidak pernah lepas dengan budaya dan gaya di isi ceritanya yang selalu menampilkan nyanyian.
Indonesia ?. pernah mencapai era emas di tahun 1992-an, namun setelah itu mengalami surut dengan munculnya statsiun-statsiun televisi swasta. Mulai bangkit lagi dengan cerita cosmopolitannya yang berhasil mendobrak pasarnya di dalam negri, sayangnya terinfeksi budaya Poskolonial (pasca colonial), yang di mana tadinya bermaksud merubah dan menggeser cerita-cerita yang cenderung monoton dan bertele-tele dan tidak sesuai dengan nilai budaya Indonesia, misal cerita-cerita yang menampilkan berbau semi porno (layar lebar), percintaan yang terlalu di dramatisir dan budaya elite (sinetron), namun dengan mengangkat cerita dan menampilkan kemasan baru malah mendatangkan budaya baru lagi, dimana nilai-nilai budaya dapat tergeser. Contoh : Virgin dan Buruan Cium Gue, cerita dan gaya kemasan yang kebarat-baratan yang mengangkat cerita sisi gelap dari remaja metropolitan/kaum burjois serta menampilkan adegan-adegan yang tidak perlu, misal ciuman dan hubungan sex di kalangan remaja, seperti halnya film Hollywood.
Hal ini sesuai dengan budaya poskolonial telah merubah struktur budaya Indonesia dan menghilangkan identitas nasional yang di miliki Indonesia selama ini. Jika hal ini terus berlanjut, bagaimana dengan generasi-generasi bangsa ini nantinya. Apakah kita akan membiarkan mereka akan kehilangan identitas budaya asli kita oleh sentuhan-sentuhan budaya poskolonial yang dibawa melalui film-film berbau Hollywoodl yang saat ini banyak bergentayangan di dunia perfilman bangsa kita ini.
Referensi :
• P.C.S. Sutisno (1993), “Pedoman Praktis Penulisan Skenario Televisi dan Video”, Grasindo, Jakarta
• Talk Show “Pemutaran Film SEPET (film Malaysia)+ Temu Sutradara”, Kampus Terpadu UMY, 7 April 2005
•
REPRESENTASI KETIDAK ADILAN GENDER DI AMERIKA DALAM FILM “THE STEPFORD WIVES”
Oleh : Titta Novithasary (mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY, NIM : 2002053019, peserta mata kuliah Sosiologi Komunikasi)
Joanna eberthar adalah seorang wanita amerika yang bekerja sebagai pimpinan jaringan televisi yang sukses, ia sebagai legendaris dalam industri jaringan televis tersebut. Ia sudah bersuami, kerena kesibukannya ia melupakan keluarganya, anak-anaknya dan walter suaminya yang bekerja sebagai wakil presiden yang kurang menguasai pekerjaannya. Karena terlalu sibuk, walterlah yang harus mengurus rumah tangganya, acara-acara televisi yang Joanna siarkan banyak yang menyimpang dan merendahkan derajat kaum pria, kerena banyak yang memprotes acaranya akhirnya Joanna dipecat dari pekerjaannya, Joanna pun mengalami sakit gagal syaraf atau stress.
Joanna beserta wallter dan anak-anaknya pindah ke suatu desa perumahan elit (Stepford Estates), dengan maksud mereka ingin memperbaiki perkawinannya dan menginginkan kehidupan baru. Di Stepford Estates mereka disambut oleh Ny Wellington, ia seorang agen perumahan, Joanna pun diajak jalan-jalan supaya tahu lingkungan perumahan Stepford, Ny Wellington menjelaskan bahwa di stepford estate terdapat perkumpulan pria yang bernama Stepford dan perkumpulan wanta yang bernama The Simply Stepford Day Spa, Joanna tidak tahu lebih jelasnya bahwa di stepford adalah tempat perkumpulan para pria yang dipimpin oleh Mike suami dari Ny Wellington. Dimana pria-pria ini adalah suami-suami dari para wanita yang dijadikan robot diperkumpulan para wanita. Dan The Simply Stepford Day Spa adalah tempat perkumpulan para wanita yang dipimpin oleh Ny Wellinton, dimana wanita-wanita ini dijadikan robot-robot dengan cara ditanami Chip pengatur otak oleh para suaminya. Mereka disuruh untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang lemah lembut, menjagga kecantikanya, merawat keindahan rumah, yang sebenarnya wanita-wanita ini adalah orang-orang penting yang tidak memperhatikan suami dan keluargannya lagi karena kesibukannya.
Walter datang ke Stepford dan dia menceritakann tentang istrinya, sehingga walterpun dipengaruhi Mike untuk menjadi anggotanya, walter pun tertarik karena ingin balas dendam pada Joanna kerena segala yang dimilikinya melebihi apa yang ia miliki, dan yang membuat wanita-wanita ini menjadi robot adalah Ny Wellinton, kerena dia seorang ahli bedah otak terbaik di dunia dan ahli rekayasa genetika yang bekerja di Pentagon, dia bermaksud mewujudkan wanita menjadi robot agar terciptanya surga keluarga.
Secara diam-diam Walter akan menjadikan Joanna menjadi robot karena dia sudah tidak tahan dengan tingkah lakunya yang keras dan ingin bekerja lagi menjadi wanita karier, Joanna pun akhirnya tahu bahwa dia akan dijadikan robot dan dia menolaknya tetapi karena anaknya disenbunyikan Mike dan mike membujuk Joanna akhirnya Joanna pun mau menjadi robot wanita yang nantinya akan diperbudak oleh suaminya.
Hegomoni sering menggunakan media, tapi media juga bisa dipakai untuk melakukan Counter Hegomony untuk melawan hegomoni itu sendiri.
The Ruling Class-power berpendapat untuk mempertahankan kekuatannya harus ada dominasi dan ideology dominant. Dalam Film ini menampilkan orang-orang kaya yang tinggal diperumahan elit
Louis Athusser- aliran Marxisme berpendapat bahwa dia tidak setuju segala sesuatu berasal dari ekonomi
Di film Hollywood ini ceritanya mengangkat tentang Gender. Dimana Joanna yang berasal dari Amerika lebih cenderung menginginkan menjadi wanita karier daripada menjadi seorang ibu rumah tangga.
Gender yaitu suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara social maupun cultural misalnya perempuan dikenal lemah lembut, cantik, emosional, atau keibuan sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan, perkasa.
Ketidak adilan gender akan menjadi masalah ketika wanita akan menjadi pemimpin. Adapun teori Feminisme dibawah ini :
• Feminisme liberal (Freidan,1963) berpendapat bahwa perempuan dapat menaikan posisi-posisi mereka keluarga dan masyarakat melalui kombinasi inisiatif dan prestasi individual (missal pendidikan tinggi) yang dapat dikonsepsikan sebagai upaya memperbaiki peran gender mereka, cara pengambilan keputusan sehubungan dengan pengasuhan anak, yang akan memberikan kemungkinan bagi perempuan untuk nengejar karier
• Feminisme radikal adalah cultural (Fireston, 1977. Atkinson,1974) berpandangan bahwa penindasan atas perempuan terutama terjadi karena patriarki yang beroprasi baik pada level keluarga dan pada level budaya dimana Citra Eksis perempuan diobjektifkan sehingga menindas mereka.
Bahwa media dipandang sebagai instrument untuk menyampaikan Stereotype, Patriarkhi dan hegomoni
1. Liberal Feminism : media menjamin keberlanjutan transmisi nilai-nilai dominant (perempuan sebagai ibu rumah tangga)
2. Radical Feminism : media melayani kebutuhan masyarakat patriarkhi dengan medistorsi pengalaman perempuan.
Referensi
Teori Social Kritis (Critical Social Theories an Introduction) Kritik, penerapan dan implikasinya Ben Agger.. Penerbit kreasi wacana 2003
Analisis Gender dan Gender transformasi sosial, Dr Mansour fakih, penerbit pustaka pelajar
Joanna eberthar adalah seorang wanita amerika yang bekerja sebagai pimpinan jaringan televisi yang sukses, ia sebagai legendaris dalam industri jaringan televis tersebut. Ia sudah bersuami, kerena kesibukannya ia melupakan keluarganya, anak-anaknya dan walter suaminya yang bekerja sebagai wakil presiden yang kurang menguasai pekerjaannya. Karena terlalu sibuk, walterlah yang harus mengurus rumah tangganya, acara-acara televisi yang Joanna siarkan banyak yang menyimpang dan merendahkan derajat kaum pria, kerena banyak yang memprotes acaranya akhirnya Joanna dipecat dari pekerjaannya, Joanna pun mengalami sakit gagal syaraf atau stress.
Joanna beserta wallter dan anak-anaknya pindah ke suatu desa perumahan elit (Stepford Estates), dengan maksud mereka ingin memperbaiki perkawinannya dan menginginkan kehidupan baru. Di Stepford Estates mereka disambut oleh Ny Wellington, ia seorang agen perumahan, Joanna pun diajak jalan-jalan supaya tahu lingkungan perumahan Stepford, Ny Wellington menjelaskan bahwa di stepford estate terdapat perkumpulan pria yang bernama Stepford dan perkumpulan wanta yang bernama The Simply Stepford Day Spa, Joanna tidak tahu lebih jelasnya bahwa di stepford adalah tempat perkumpulan para pria yang dipimpin oleh Mike suami dari Ny Wellington. Dimana pria-pria ini adalah suami-suami dari para wanita yang dijadikan robot diperkumpulan para wanita. Dan The Simply Stepford Day Spa adalah tempat perkumpulan para wanita yang dipimpin oleh Ny Wellinton, dimana wanita-wanita ini dijadikan robot-robot dengan cara ditanami Chip pengatur otak oleh para suaminya. Mereka disuruh untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang lemah lembut, menjagga kecantikanya, merawat keindahan rumah, yang sebenarnya wanita-wanita ini adalah orang-orang penting yang tidak memperhatikan suami dan keluargannya lagi karena kesibukannya.
Walter datang ke Stepford dan dia menceritakann tentang istrinya, sehingga walterpun dipengaruhi Mike untuk menjadi anggotanya, walter pun tertarik karena ingin balas dendam pada Joanna kerena segala yang dimilikinya melebihi apa yang ia miliki, dan yang membuat wanita-wanita ini menjadi robot adalah Ny Wellinton, kerena dia seorang ahli bedah otak terbaik di dunia dan ahli rekayasa genetika yang bekerja di Pentagon, dia bermaksud mewujudkan wanita menjadi robot agar terciptanya surga keluarga.
Secara diam-diam Walter akan menjadikan Joanna menjadi robot karena dia sudah tidak tahan dengan tingkah lakunya yang keras dan ingin bekerja lagi menjadi wanita karier, Joanna pun akhirnya tahu bahwa dia akan dijadikan robot dan dia menolaknya tetapi karena anaknya disenbunyikan Mike dan mike membujuk Joanna akhirnya Joanna pun mau menjadi robot wanita yang nantinya akan diperbudak oleh suaminya.
Hegomoni sering menggunakan media, tapi media juga bisa dipakai untuk melakukan Counter Hegomony untuk melawan hegomoni itu sendiri.
The Ruling Class-power berpendapat untuk mempertahankan kekuatannya harus ada dominasi dan ideology dominant. Dalam Film ini menampilkan orang-orang kaya yang tinggal diperumahan elit
Louis Athusser- aliran Marxisme berpendapat bahwa dia tidak setuju segala sesuatu berasal dari ekonomi
Di film Hollywood ini ceritanya mengangkat tentang Gender. Dimana Joanna yang berasal dari Amerika lebih cenderung menginginkan menjadi wanita karier daripada menjadi seorang ibu rumah tangga.
Gender yaitu suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara social maupun cultural misalnya perempuan dikenal lemah lembut, cantik, emosional, atau keibuan sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan, perkasa.
Ketidak adilan gender akan menjadi masalah ketika wanita akan menjadi pemimpin. Adapun teori Feminisme dibawah ini :
• Feminisme liberal (Freidan,1963) berpendapat bahwa perempuan dapat menaikan posisi-posisi mereka keluarga dan masyarakat melalui kombinasi inisiatif dan prestasi individual (missal pendidikan tinggi) yang dapat dikonsepsikan sebagai upaya memperbaiki peran gender mereka, cara pengambilan keputusan sehubungan dengan pengasuhan anak, yang akan memberikan kemungkinan bagi perempuan untuk nengejar karier
• Feminisme radikal adalah cultural (Fireston, 1977. Atkinson,1974) berpandangan bahwa penindasan atas perempuan terutama terjadi karena patriarki yang beroprasi baik pada level keluarga dan pada level budaya dimana Citra Eksis perempuan diobjektifkan sehingga menindas mereka.
Bahwa media dipandang sebagai instrument untuk menyampaikan Stereotype, Patriarkhi dan hegomoni
1. Liberal Feminism : media menjamin keberlanjutan transmisi nilai-nilai dominant (perempuan sebagai ibu rumah tangga)
2. Radical Feminism : media melayani kebutuhan masyarakat patriarkhi dengan medistorsi pengalaman perempuan.
Referensi
Teori Social Kritis (Critical Social Theories an Introduction) Kritik, penerapan dan implikasinya Ben Agger.. Penerbit kreasi wacana 2003
Analisis Gender dan Gender transformasi sosial, Dr Mansour fakih, penerbit pustaka pelajar
Wednesday, May 04, 2005
EKSPLOITASI TUBUH PRIA DAN WANITA DALAM PERKEMBANGAN FILM INDONESIA
Oleh : Rochmad Zulfianur
Bangkitnya perfilman Indonesia pada awal millennium atau awal tahun 2000, yang digebrak oleh film pertama karya sineas muda Indonesia Mira Lesmana yaitu Petualangan Sherina dan Ada Apa Dengan Cinta membawa peluang besar bagi remaja atau pemuda Indonesia yang sedang bergelut di dunia broadcasting, sebut saja Dian Sastro yang awalnya bukan berasal dari dunia broadcasting, namun karena dia memiliki tubuh yang modern, memiliki wajah yang Indonesia dan berkulit sawo matang, maka mendapatkan kesempatan berkarir di industri perfilman Indonesia.
Bila dilihat dari perkembangan film Indonesia tempo dulu yaitu dimasa kejayaan perfilman Indonesia, era 1970 hingga 1990. wanita direpresentasikan sebagai wanita yang dihormati, disanjung dan memiliki sifat yang halus. Pada prilaku biasanya ditonjolkan yang sederhana, pemalu dan secara fisik berwajah Indonesia dan berkulit sawo matang serta menutupi tubuhnya dengan hanya dibalut kemben. Hal semacam ini dapat kita saksikan pada film – film kolosal Indonesia seperti Tutur Tinular, Saur Sepuh, Pitung, dll. Sedangkan tubuh modern pria digambarkan secara fisik, berotot, berbadan besar, bisa silat bahkan memiliki tenaga dalam.
Walaupun ada juga film Indonesia yang menampilkan adegan kekerasan terhadap wanita maupun seksualitas namun dikemas secara santun karena nuansa ketimuran masih kental sekali dirasakan. Kembali di era saat ini tubuh modern yang laku dipasaran yaitu tubuh yang memiliki sex appeal, langsing, putih dan berwajah oriental atau Eropa. Sedangkan laki – laki yang dianggap bertubuh modern yaitu laki – laki yang memiliki six pack, macho, tinggi, berambut pendek / cepak. Selain itu wanita pada film kontemporer direpresentasikan sebagai wanita yang tangguh, mandiri, pekerja keras dan berani contohnya pada film Daun Diatas Bantal, Pasir Berbisik yang diperankan oleh christin Hakim. Lain lagi ceritanya wanita sebagai subyek dan pria obyeknya ini diambil dari sebuah adegan film Virgin, dimana pria dilelang untuk diperebutkan oleh para wanita dari sebuah acara ulang tahun. Perilaku dalam film Virgin inipun bisa dikatakan sangat luar biasa karena ditampilkan remaja SMU yang merokok, bertato dan berpakaian minim serta tutur bahasa yang kasar. Tubuhnya jelas saja seksi dan ada yang berwajah oriental.
Sedangkan pada film Brownies dan Arisan digambarkan wanita kelas atas dengan gaya hidup serba wah dan menggunakan pakaian serta asesoris yang bermerk, kemudian wanita direpresentasikan sebagai wanita karir dan memiliki sensitivitas yang tinggi sehingga mudah emosional. Lagi – lagi pria dijadikan obyek pada film Arisan dimana ada seorang pria sebagai guru les bahasa Itali yang menjadi pilihan ibu – ibu yang tergabung dalam kelompok arisan untuk dijadikan flirting atau berhubungan tanpa perasaan. Pria ini berpostur tubuh ideal, putih, tinggi, klimis, pintar dan maskulin. Selain itu peran utama pria dalam film Arisan Tora Sudiro juga digambarkan sebagai sosok yang tampan, pinter, bisa bermain musik, professional muda dan six pack selain itu tora juga digambarkan sebagai pria metroseksual yaitu pria yang suka dengan perawatan tubuh,seperti pergi ke salon, spa bahkan luluran.
Pada film Buruan Cium Gue juga dicitrakan tokoh wanita yang sangat agresif dan berpenampilan seksi. Terjadinya pemilihan tubuh modern ini bisa disebabkan karena pengaruh media seperti Televisi, Film, Internet dari luar negeri / western. Sehingga membawa implikasi pada masyarakat Indonesia dan masyarakat Indonesia sudah kehilangan nuansa atau adat ketimurannya karena kebanyakan mengkonsumsi gaya hidup serta fashion orang – orang eropa atau western. Hal inipulalah yang mengakibatkan para pemain industri perfilman memilih tubuh modern dengan mengeksploitasi tubuh pria dan wanita yang masuk kategori tubuh modern karena laku dipasaran dan menjual sehingga menguntungkan para pemain industri perfilman tersebut.
Sedangkan tubuh yang secara fisik seperti gendut, kurus berkulit gelap atau hitam dijadikan peran pembantu dan menjadi peran ejekan atau lelucon serta hanya untuk memberikan warna lain pada film – film tersebut. selain itu tubuh pria dan wanita yang dieksploitasi untuk keperluan film, juga diimitasi pada masyarakat kebanyakan yang akhirnya menjadi trendsetter dan modern.
Representasi tubuh modern dalam film Indonesia masih banyak dipermasalahkan karena bentuk pengemasannya yang vulgar sehingga terlalu ekstrim untuk ditayangkan selain itu tata bahasa atau dialog yang digunakan juga kasar selain itu adegan ciuman juga sempat dipermasalahkan, adegan yang dimulai dari film Ada Apa Dengan Cinta hinggga film Buruan Cium Gue yang sangat diprotes karena pengemasan filmnya yang terlalu vulgar. Hal ini jelaslah sangat melanggar etika dan norma sosial yang berlaku di Negara ini. Miris, itulah ungkapan suasana hati yang berasal dari ranah jawa yang merepresentasikan perasaan sedih, prihatin campur kecewa yang menjadi satu atas problematika perfilman Indonesia yang melanggar etika dan norma yang ada.
Penulis : Rochmad Zulfiannur, mahasiswa aktif Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Ketua Umum Cinema Komunikasi ( CIKO ) Yogya.
Bangkitnya perfilman Indonesia pada awal millennium atau awal tahun 2000, yang digebrak oleh film pertama karya sineas muda Indonesia Mira Lesmana yaitu Petualangan Sherina dan Ada Apa Dengan Cinta membawa peluang besar bagi remaja atau pemuda Indonesia yang sedang bergelut di dunia broadcasting, sebut saja Dian Sastro yang awalnya bukan berasal dari dunia broadcasting, namun karena dia memiliki tubuh yang modern, memiliki wajah yang Indonesia dan berkulit sawo matang, maka mendapatkan kesempatan berkarir di industri perfilman Indonesia.
Bila dilihat dari perkembangan film Indonesia tempo dulu yaitu dimasa kejayaan perfilman Indonesia, era 1970 hingga 1990. wanita direpresentasikan sebagai wanita yang dihormati, disanjung dan memiliki sifat yang halus. Pada prilaku biasanya ditonjolkan yang sederhana, pemalu dan secara fisik berwajah Indonesia dan berkulit sawo matang serta menutupi tubuhnya dengan hanya dibalut kemben. Hal semacam ini dapat kita saksikan pada film – film kolosal Indonesia seperti Tutur Tinular, Saur Sepuh, Pitung, dll. Sedangkan tubuh modern pria digambarkan secara fisik, berotot, berbadan besar, bisa silat bahkan memiliki tenaga dalam.
Walaupun ada juga film Indonesia yang menampilkan adegan kekerasan terhadap wanita maupun seksualitas namun dikemas secara santun karena nuansa ketimuran masih kental sekali dirasakan. Kembali di era saat ini tubuh modern yang laku dipasaran yaitu tubuh yang memiliki sex appeal, langsing, putih dan berwajah oriental atau Eropa. Sedangkan laki – laki yang dianggap bertubuh modern yaitu laki – laki yang memiliki six pack, macho, tinggi, berambut pendek / cepak. Selain itu wanita pada film kontemporer direpresentasikan sebagai wanita yang tangguh, mandiri, pekerja keras dan berani contohnya pada film Daun Diatas Bantal, Pasir Berbisik yang diperankan oleh christin Hakim. Lain lagi ceritanya wanita sebagai subyek dan pria obyeknya ini diambil dari sebuah adegan film Virgin, dimana pria dilelang untuk diperebutkan oleh para wanita dari sebuah acara ulang tahun. Perilaku dalam film Virgin inipun bisa dikatakan sangat luar biasa karena ditampilkan remaja SMU yang merokok, bertato dan berpakaian minim serta tutur bahasa yang kasar. Tubuhnya jelas saja seksi dan ada yang berwajah oriental.
Sedangkan pada film Brownies dan Arisan digambarkan wanita kelas atas dengan gaya hidup serba wah dan menggunakan pakaian serta asesoris yang bermerk, kemudian wanita direpresentasikan sebagai wanita karir dan memiliki sensitivitas yang tinggi sehingga mudah emosional. Lagi – lagi pria dijadikan obyek pada film Arisan dimana ada seorang pria sebagai guru les bahasa Itali yang menjadi pilihan ibu – ibu yang tergabung dalam kelompok arisan untuk dijadikan flirting atau berhubungan tanpa perasaan. Pria ini berpostur tubuh ideal, putih, tinggi, klimis, pintar dan maskulin. Selain itu peran utama pria dalam film Arisan Tora Sudiro juga digambarkan sebagai sosok yang tampan, pinter, bisa bermain musik, professional muda dan six pack selain itu tora juga digambarkan sebagai pria metroseksual yaitu pria yang suka dengan perawatan tubuh,seperti pergi ke salon, spa bahkan luluran.
Pada film Buruan Cium Gue juga dicitrakan tokoh wanita yang sangat agresif dan berpenampilan seksi. Terjadinya pemilihan tubuh modern ini bisa disebabkan karena pengaruh media seperti Televisi, Film, Internet dari luar negeri / western. Sehingga membawa implikasi pada masyarakat Indonesia dan masyarakat Indonesia sudah kehilangan nuansa atau adat ketimurannya karena kebanyakan mengkonsumsi gaya hidup serta fashion orang – orang eropa atau western. Hal inipulalah yang mengakibatkan para pemain industri perfilman memilih tubuh modern dengan mengeksploitasi tubuh pria dan wanita yang masuk kategori tubuh modern karena laku dipasaran dan menjual sehingga menguntungkan para pemain industri perfilman tersebut.
Sedangkan tubuh yang secara fisik seperti gendut, kurus berkulit gelap atau hitam dijadikan peran pembantu dan menjadi peran ejekan atau lelucon serta hanya untuk memberikan warna lain pada film – film tersebut. selain itu tubuh pria dan wanita yang dieksploitasi untuk keperluan film, juga diimitasi pada masyarakat kebanyakan yang akhirnya menjadi trendsetter dan modern.
Representasi tubuh modern dalam film Indonesia masih banyak dipermasalahkan karena bentuk pengemasannya yang vulgar sehingga terlalu ekstrim untuk ditayangkan selain itu tata bahasa atau dialog yang digunakan juga kasar selain itu adegan ciuman juga sempat dipermasalahkan, adegan yang dimulai dari film Ada Apa Dengan Cinta hinggga film Buruan Cium Gue yang sangat diprotes karena pengemasan filmnya yang terlalu vulgar. Hal ini jelaslah sangat melanggar etika dan norma sosial yang berlaku di Negara ini. Miris, itulah ungkapan suasana hati yang berasal dari ranah jawa yang merepresentasikan perasaan sedih, prihatin campur kecewa yang menjadi satu atas problematika perfilman Indonesia yang melanggar etika dan norma yang ada.
Penulis : Rochmad Zulfiannur, mahasiswa aktif Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Ketua Umum Cinema Komunikasi ( CIKO ) Yogya.
Sunday, May 01, 2005
BLONDE YANG EXCELLENT: HEGEMONI HOLLYWOOD TENTANG GADIS HEBAT
Oleh : Lalita MG (mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY, peserta mata kuliah sosiologi komunikasi)
Everybody comes to Hollywood
They wanna make it in the neighbourhood
They like the smell of it in Hollywood
How could it hurt you when it looks so good?
Shine your light now
This time it's got to be good
You get it right now
Cause you're in Hollywood
There's something in the air in Hollywood
The sun is shining like you knew it would
You're riding in your car in Hollywood
You got the top down and it feels so good
I lost my memory in Hollywood
I've had a million visions bad and good
There's something in the air in Hollywood
I tried to leave it but I never could
Music stations always play the same songs
I'm bored with the concept of right and wrong (Madonna, Hollywood)
Apakah yang diceritakan oleh lagu diatas? Pasti, Hollywood yang glamor, berpengaruh, dan setiap orang mengikutinya. Coba amati video musiknya yang vulgar. Didalam video itu ditampilkan Madonna dengan pakaian (maaf) pelacur Amerika—seperti pakaian renang—dengan stocking jala hitam meliuk-liukkan tubuhnya sesuai apa yang dikenakan. Pada bagian akhir, diperlihatkan wajah Madonna ditusuk-tusuk dengan jarum suntik oleh tangan-tangan dengan lengan baju putih-putih. Lirik dan video “Hollywood” milik diva pop yang selalu tampil sensual dalam tiap video musiknya menggambarkan gemerlap Hollywood yang artis-artisnya gila akan kehidupan glamor, skin-lifting, operasi plastik demi keelokan tubuhnya. Fetish memang!
Setiap orang tahu Hollywood, adalah industri perfilman yang merajai pasarnya di seluruh dunia. Michael R. Real menyampaikan joke sebagai berikut:
You live in Rome and want to see a good movie. You jump on your Vespa and head to the cinema, thinking, “Italy, the home of Fellini, Antonioni, Bertolucci … Great cinema.” The local theater is playing … Stallone and Schwarzenegger. (Real, 1996: 148)
Begitu mudah mendapatkan film-film produksi Hollywood di bioskop, tidak lain di Indonesia yang saat ini sudah begitu mudah mendapatkan film dalam bentuk DVD dan VCD yang dapat dengan mudah pula menikmati home-theater. Itu baru sekedar media, belum pesan yang terdapat didalamnya, yang sering menjajah kesadaran berpikir penonton sehingga berpengaruh pula secara global.
Dari deretan film Superman, Batman, Spiderman, XXX, jelas mempresentasikan pahlawan laki-laki dengan ciri WASP (White, Anglo-Saxon, Protestant). Bandingkan dengan film berikut: Kill Bill, Electra, Legally Blonde dan Legally Blonde 2. Tokoh utamanya adalah wanita, berambut pirang, langsing, mempunyai kelebihan disbanding wanita lain didalam film tersebut. Menarik mengamati film yang disebutkan terakhir; pasalnya tidak ada wanita pirang lain selain si tokoh utama. Padahal jika kita melihat kenyataan orang Amerika banyak sekali yang berambut pirang. Hegemoni apa yang ingin dilancarkan oleh Hollywood?
Produksi Media … atau Hegemoni
Antonio Gramsci berpendapat bahwa hegemoni itu kuat tetapi hegemoni bukan merupakan pengaruh yang bergerak sendiri dari alat control budaya dominan terhadap kelompok massa yang mempunyai kekuatan dibawahnya. (29). Hollywood memproduksi film dan musik, dan juga memproduksi budaya. Adakah film Hollywood yang tidak membawa dampak terhadap budaya? Contoh kecil saja, wanita mana yang tidak kebingungan melihat angka timbangannya naik dengan cepat setelah menonton “Shallow Hall”? Laki-laki mana yang tidak terusik dengan ejekan dari teman atau pacarnya mengatakan dia krempeng setelah menyaksikan Vin Diesel dalam “XXX”?
Real juga memberikan spesifikasi terhadap hegemoni budaya, yaitu dominasi dari satu kelompok satu terhadap kelompok lain melalui produk media. (157). Tak perlu dipertanyakan lagi bahwa film produksi Hollywood mengandung unsur hegemoni atau tidak. Cukup jelas dengan contoh diatas.
Begitu kuatnya dominasi Hollywood dalam produksi film mempengaruhi ajang penghargaan perfilman seperti Academi Award, MTV Award. Banyak kategori yang diperebutkan dalam ajang bergengsi tersebut. Siapa yang keluar jadi pemenang? … produk-produk dari Hollywood tentunya yang mendominasi.
Pihak yang ikut dalam lingkaran setan Hollywood ini tidak lain dan tidak bukan adalah aktor dan aktrisnya. Mereka adalah komoditas Hollywood, dan control terhadap pasokan aktor dan aktris dipegang oleh suatu wadah yang memberlakukan control jangka panjang dengan standar Hollywood tentunya. (Sklar, 1994: 230).
Mengintip Dapur Hollywood
Di Indonesia, kita mengenal StarVision yang memproduksi banyak sinetron. Industri media ini memberlakukan standar bagi bintang wanita harus kurus, semampai, berparas cantik, berpakaian you can see, seakan-akan tidak ada wanita yang jelek di Indonesia. Pertanyaannya apakah wanita di Indonesia adalah seperti apa yang ditampilkan di TV? Atau haruskah wanita Indonesia mengikuti standar itu?
Seorang teman dari Jepang belajar di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), menemukan banyak mahasiswi dengan pakaian tertutup bahkan banyak yang mengenakan jilbab. Dia menyimpulkan,”Saya pikir gadis-gadis Indonesia berpakaian seperti di serial TV, ternyata tidak.”
Lain lagi dengan teman saya dari Amerika. Dia meyakinkan saya bahwa orang-orang di Amerika tidaka seperti apa yang disajikan di film Hollywood. Banyak wanita Amerika yang tidak seksi, banyak juga yang tidak mengartikan cantik melalui tubuh.
Steven Spielberg dan Bernando Bertolucci adalah sutradara ternama dan mereka adalah laki-laki. Amati nama-nama kamerawan, editor, penulis scenario, dan posisi lain dalam produksi film saat film yang Anda tonton berakhir. Dominasi laki-laki dengan jelas kita baca dari itu. Hal tersebut menghasilkan “The Male Gaze” yang memaksa penonton mempersepsikan suatu obyek seperti apa yang diinginkan mereka. Ideology patriaki dalam film Hollywood klasik menghasilkan film-film yang merepresentasikan tokoh laki-laki sebagai aktif, bermacam-macam karakteristik, dan banyak. Sedangkan wanita direpresentasikan pasif, karakteristiknya seragam, dan lebih sedikit jumlahnya dibandingkan peran laki-laki. (Real: 176)
Cara perepresentasian Hollywood ini mulai pudar di abad 21. perhatikan Cat Woman, Kill Bill, Ms Congeniality, Legally Blonde. Karakter pasif mulai ditinggalkan; wanita mulai menjadi orang yang penting seperti sebagai pahlawan, intelektual, dan peran positif lainnya.
Pirang … Langsing … Cantik … Hebat
Legally Blonde terbilang film Hollywood yang sukses. Diproduksi pada saat gadis Amerika yang berambut pirang loose identity karena marak istilah dumb blonde. Tahun 2004 Legally Blonde 2 diedarkan.
Siapa yang tidak mengenal Britney Spears dengan hit perdananya “…Baby One More Time”? Dilanjutkan dengan rivalnya Christina Aguilera, julukan teen idol membahana. Bagaimana tidak kedua penyanyi pop itu memang berhasil menembus pasar musik remaja dan menjadi teratas. Tahun 1998 merupakan awal Teen Choice Award masuk ke barisan budaya pop tersebut, dan Britney menjadi ratunya dengan memenangkan berbagai kategori di ajang penghargaan yang khusus untu anak-anak remaja Amerika.
Kalangan musik heboh setelah tahu Britney sering membawakan lagunya dengan lipsync. Penyanyi remaja dengan kriteria 3B (Blonde, Bust, Beauty) mulai menurun popularitasnya sehingga membentuk pemikiran bahwa gadis pirang, berdada besar, itu bodoh—dikenal dengan dumb blonde. Mulai tahun 1999 sampai 2000 banyak gadis Amerika berambut pirang yang mengecat rambutnya dengan warna lebih gelap.
Film ini bermaksud membebaskan kesadaran itu, bahwa pirang bukanlah bodoh. Peran utama dipoles seperti Barbie—lambang kecantikan—dengan busana yang didominasi pink dan modis. Aneh memang, dan tampak ideologi Barbie diumbar disana. Tidak ada gadis yang berambut pirang selain peran utama tersebut. Dia dari fisik cantik, dan intelektual juga luar biasa.
Akan tetapi cantik di Legally Blonde 1 dan 2 adalah cantik ukuran Barat dengan kulit putih, pirang, langsing dan tinggi semampai. Gadis disekitarnya diperankan oleh aktris berambut burnet dan mereka biasa-biasa saja dan justru akhirnya dapat ditakhlukkan olehnya.
SUMBER
• Real, Michael. (1996). Exploring Media Culture: A Guide. Thousand Oaks: Sage Publications.
• Sklar, Robert. (1994). Movie-Made America. New York: Vintage.
• sosiologikomunikasi.blogspot.com
Everybody comes to Hollywood
They wanna make it in the neighbourhood
They like the smell of it in Hollywood
How could it hurt you when it looks so good?
Shine your light now
This time it's got to be good
You get it right now
Cause you're in Hollywood
There's something in the air in Hollywood
The sun is shining like you knew it would
You're riding in your car in Hollywood
You got the top down and it feels so good
I lost my memory in Hollywood
I've had a million visions bad and good
There's something in the air in Hollywood
I tried to leave it but I never could
Music stations always play the same songs
I'm bored with the concept of right and wrong (Madonna, Hollywood)
Apakah yang diceritakan oleh lagu diatas? Pasti, Hollywood yang glamor, berpengaruh, dan setiap orang mengikutinya. Coba amati video musiknya yang vulgar. Didalam video itu ditampilkan Madonna dengan pakaian (maaf) pelacur Amerika—seperti pakaian renang—dengan stocking jala hitam meliuk-liukkan tubuhnya sesuai apa yang dikenakan. Pada bagian akhir, diperlihatkan wajah Madonna ditusuk-tusuk dengan jarum suntik oleh tangan-tangan dengan lengan baju putih-putih. Lirik dan video “Hollywood” milik diva pop yang selalu tampil sensual dalam tiap video musiknya menggambarkan gemerlap Hollywood yang artis-artisnya gila akan kehidupan glamor, skin-lifting, operasi plastik demi keelokan tubuhnya. Fetish memang!
Setiap orang tahu Hollywood, adalah industri perfilman yang merajai pasarnya di seluruh dunia. Michael R. Real menyampaikan joke sebagai berikut:
You live in Rome and want to see a good movie. You jump on your Vespa and head to the cinema, thinking, “Italy, the home of Fellini, Antonioni, Bertolucci … Great cinema.” The local theater is playing … Stallone and Schwarzenegger. (Real, 1996: 148)
Begitu mudah mendapatkan film-film produksi Hollywood di bioskop, tidak lain di Indonesia yang saat ini sudah begitu mudah mendapatkan film dalam bentuk DVD dan VCD yang dapat dengan mudah pula menikmati home-theater. Itu baru sekedar media, belum pesan yang terdapat didalamnya, yang sering menjajah kesadaran berpikir penonton sehingga berpengaruh pula secara global.
Dari deretan film Superman, Batman, Spiderman, XXX, jelas mempresentasikan pahlawan laki-laki dengan ciri WASP (White, Anglo-Saxon, Protestant). Bandingkan dengan film berikut: Kill Bill, Electra, Legally Blonde dan Legally Blonde 2. Tokoh utamanya adalah wanita, berambut pirang, langsing, mempunyai kelebihan disbanding wanita lain didalam film tersebut. Menarik mengamati film yang disebutkan terakhir; pasalnya tidak ada wanita pirang lain selain si tokoh utama. Padahal jika kita melihat kenyataan orang Amerika banyak sekali yang berambut pirang. Hegemoni apa yang ingin dilancarkan oleh Hollywood?
Produksi Media … atau Hegemoni
Antonio Gramsci berpendapat bahwa hegemoni itu kuat tetapi hegemoni bukan merupakan pengaruh yang bergerak sendiri dari alat control budaya dominan terhadap kelompok massa yang mempunyai kekuatan dibawahnya. (29). Hollywood memproduksi film dan musik, dan juga memproduksi budaya. Adakah film Hollywood yang tidak membawa dampak terhadap budaya? Contoh kecil saja, wanita mana yang tidak kebingungan melihat angka timbangannya naik dengan cepat setelah menonton “Shallow Hall”? Laki-laki mana yang tidak terusik dengan ejekan dari teman atau pacarnya mengatakan dia krempeng setelah menyaksikan Vin Diesel dalam “XXX”?
Real juga memberikan spesifikasi terhadap hegemoni budaya, yaitu dominasi dari satu kelompok satu terhadap kelompok lain melalui produk media. (157). Tak perlu dipertanyakan lagi bahwa film produksi Hollywood mengandung unsur hegemoni atau tidak. Cukup jelas dengan contoh diatas.
Begitu kuatnya dominasi Hollywood dalam produksi film mempengaruhi ajang penghargaan perfilman seperti Academi Award, MTV Award. Banyak kategori yang diperebutkan dalam ajang bergengsi tersebut. Siapa yang keluar jadi pemenang? … produk-produk dari Hollywood tentunya yang mendominasi.
Pihak yang ikut dalam lingkaran setan Hollywood ini tidak lain dan tidak bukan adalah aktor dan aktrisnya. Mereka adalah komoditas Hollywood, dan control terhadap pasokan aktor dan aktris dipegang oleh suatu wadah yang memberlakukan control jangka panjang dengan standar Hollywood tentunya. (Sklar, 1994: 230).
Mengintip Dapur Hollywood
Di Indonesia, kita mengenal StarVision yang memproduksi banyak sinetron. Industri media ini memberlakukan standar bagi bintang wanita harus kurus, semampai, berparas cantik, berpakaian you can see, seakan-akan tidak ada wanita yang jelek di Indonesia. Pertanyaannya apakah wanita di Indonesia adalah seperti apa yang ditampilkan di TV? Atau haruskah wanita Indonesia mengikuti standar itu?
Seorang teman dari Jepang belajar di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), menemukan banyak mahasiswi dengan pakaian tertutup bahkan banyak yang mengenakan jilbab. Dia menyimpulkan,”Saya pikir gadis-gadis Indonesia berpakaian seperti di serial TV, ternyata tidak.”
Lain lagi dengan teman saya dari Amerika. Dia meyakinkan saya bahwa orang-orang di Amerika tidaka seperti apa yang disajikan di film Hollywood. Banyak wanita Amerika yang tidak seksi, banyak juga yang tidak mengartikan cantik melalui tubuh.
Steven Spielberg dan Bernando Bertolucci adalah sutradara ternama dan mereka adalah laki-laki. Amati nama-nama kamerawan, editor, penulis scenario, dan posisi lain dalam produksi film saat film yang Anda tonton berakhir. Dominasi laki-laki dengan jelas kita baca dari itu. Hal tersebut menghasilkan “The Male Gaze” yang memaksa penonton mempersepsikan suatu obyek seperti apa yang diinginkan mereka. Ideology patriaki dalam film Hollywood klasik menghasilkan film-film yang merepresentasikan tokoh laki-laki sebagai aktif, bermacam-macam karakteristik, dan banyak. Sedangkan wanita direpresentasikan pasif, karakteristiknya seragam, dan lebih sedikit jumlahnya dibandingkan peran laki-laki. (Real: 176)
Cara perepresentasian Hollywood ini mulai pudar di abad 21. perhatikan Cat Woman, Kill Bill, Ms Congeniality, Legally Blonde. Karakter pasif mulai ditinggalkan; wanita mulai menjadi orang yang penting seperti sebagai pahlawan, intelektual, dan peran positif lainnya.
Pirang … Langsing … Cantik … Hebat
Legally Blonde terbilang film Hollywood yang sukses. Diproduksi pada saat gadis Amerika yang berambut pirang loose identity karena marak istilah dumb blonde. Tahun 2004 Legally Blonde 2 diedarkan.
Siapa yang tidak mengenal Britney Spears dengan hit perdananya “…Baby One More Time”? Dilanjutkan dengan rivalnya Christina Aguilera, julukan teen idol membahana. Bagaimana tidak kedua penyanyi pop itu memang berhasil menembus pasar musik remaja dan menjadi teratas. Tahun 1998 merupakan awal Teen Choice Award masuk ke barisan budaya pop tersebut, dan Britney menjadi ratunya dengan memenangkan berbagai kategori di ajang penghargaan yang khusus untu anak-anak remaja Amerika.
Kalangan musik heboh setelah tahu Britney sering membawakan lagunya dengan lipsync. Penyanyi remaja dengan kriteria 3B (Blonde, Bust, Beauty) mulai menurun popularitasnya sehingga membentuk pemikiran bahwa gadis pirang, berdada besar, itu bodoh—dikenal dengan dumb blonde. Mulai tahun 1999 sampai 2000 banyak gadis Amerika berambut pirang yang mengecat rambutnya dengan warna lebih gelap.
Film ini bermaksud membebaskan kesadaran itu, bahwa pirang bukanlah bodoh. Peran utama dipoles seperti Barbie—lambang kecantikan—dengan busana yang didominasi pink dan modis. Aneh memang, dan tampak ideologi Barbie diumbar disana. Tidak ada gadis yang berambut pirang selain peran utama tersebut. Dia dari fisik cantik, dan intelektual juga luar biasa.
Akan tetapi cantik di Legally Blonde 1 dan 2 adalah cantik ukuran Barat dengan kulit putih, pirang, langsing dan tinggi semampai. Gadis disekitarnya diperankan oleh aktris berambut burnet dan mereka biasa-biasa saja dan justru akhirnya dapat ditakhlukkan olehnya.
SUMBER
• Real, Michael. (1996). Exploring Media Culture: A Guide. Thousand Oaks: Sage Publications.
• Sklar, Robert. (1994). Movie-Made America. New York: Vintage.
• sosiologikomunikasi.blogspot.com
ARTIKULASI DAN REFRESENTASI PEREMPUAN DALAM IKLAN
Sekilas tentang ketertindasan perempuan dalam budaya patriarki dan kapitalisme
Oleh : Sukirman (mahasiwa Ilmu Komunikasi UMY, peserta mata kuliah Sosiologi Komunikasi)
Potret diri perempuan di media massa dalam literature surat kabar/majalah, film, televise, iklan dan buku-buku masih memperlihatkan stereotype yang merugikan yaitu gambaran yang selalu tampil adalah perempuan selalu pasif dan sangat tergantung pada pria, didominasi, menerima keputusan yang dibuat olah pria dan terutama melihat dirinya sebagai symbol seks. Dimana ini semua disebabkan belum tuntas revolusi pembebasan demokratik 1945 yang salah satu pimpinannya Soekarno, seperti sisia feodalisme yang melahirkan budaya patriarki dan kapitalisme cangkokan. Dimana kita tahu budaya patriarki sekarang ini telah mengakar dalam masyarakat dan musuh paling tua kaum perempuan, yang menempatkan kaum perempuan pada posisi subordinate yang meletakan pandangan kaum laiki-laki bahwa perempuan adalah masyarakt kelas dua atau posisi inferior.
Budaya patriarki yang mengakar inilah yang di manfaatkan oleh kapitalsime untuk melanggengkan eksploitasi terhadap kaum perempuan seperti buruh perempuan yang bekerja di pabrik-pabrik industri yang memutar baling-baling industri dengan upah yang rendah, jam kerja yang tinggi, buruh kontrak, perdangan perempuan dan belum lagi dijadikan obyek dalam mengiklankan produknya dengan memakai busana-busana yang seksi sekaligus konsumen dan masih banyak lagi. Ditambah dengan situasi ekonomi yang semakin tidak kondusif mengakibat perempuan semakin rentan dengan tindakan-tindakan kekerasan dalam bentuk-bentuk prostitusi, pekerja rumah tangga dan lain-lain. Seiring dengan perkembangan ekonomi kapitalisme lanjut yang semakin tidak menemukan arah perbaikan akan keadaan krisis ekonomi yang akut sehingga kapitalis mencari jalan keluar dengan menciptakan peperangan di Negara-negara dunia ketiga yang kaya akan minyak dan hasil bumi lainya, seperti invansi AS dan sekutunya ke Irak (eksploitasi minyak). Dengan wujud barunya neolibralisme, seperti kebijakan privatisasi terhadap BUMN, pasar bebas dan penghapusan tarif impor, kebebasan investasi, pencabutan subsubsidi dan anggaran Negara, deregulasi dan jaminan keamanan dan upah buruh rendah, yang memberi dampak yang sangat signifikan bagi rakyat ekonomi kelas menengah kebawah. Anehnya lagi eksploitasi yang dilakukan lewat struktur pemrintahan (boneka imprialis) dan penjawa modalnya militer.
Iklan (media massa) merupakan alat propaganda untuk melanggengkan idiologinnya, dengan menguasai media massa. Dan kita tahu dimana rakyat Indonesia yang sekarang ini jumlah kemiskinan mencapai 120 juta jiwa ¾ kaum perempuan. Melihat situasi nasional saat ini dimana kebijakan pemerintah menaikkan bahan baker minyak (BBM) ini semakin menambah jumlah kemiskinan terutama kaum perempuan. Kompensasi subsidi BBM kesektor pendidikan dan kesehatan ini tidak akan pernah terwujud karena anggaran APBN minim sekali. Mengingat iklan-iklan di televisi hampir semua produk memakai kaum perempuan paling banyak tampil sebagai bintang iklan.
Perempuan dan iklan
Hampir setiap hari kita selalu dicekoki dengan propaganda kaum kapitalis melalui berbagai macam media, mulai dari papan reklame di jalan, bis-bis umum yang cat bodynya terpasang iklan produk tertentu sampai dengan iklan televise yang ditengah acara-acara yang kita nikmati dan ini tidak hanya menawarkan produk tertentu tetapi juga mengisi kepala kita dengan kesadaran palsu.
Iklan –iklan televisi yang kita tonton setiap hari sangat mudah diserap oleh indra kita. Penempatan gambar, suara dan waktu cukup untuk menarik focus konsentrasi penonton. Bahkan tontonan yang berdurasi hanya 15-60 detik dikemas menjadi tontonan selingan yang menarik dan kreatif. Iklan-iklan tersebut membentuk “trend”, cara berfikir, gaya hidup masyarakat, seperti perempuan dengan tubuh yang tinggi, rambut lurus, kulit putih mulus dan muka bersih bersinar.
Lebih aneh lagi iklan yang sangat seksis, hampir disetiap produknya dibuat terpisah, untuk laki-laki atau perempuan. Lihat saja iklan motor yang dibintangi oleh Tesa Kaunang dan Komeng “perempuan punya motornya sendiri”. Pemisahan produk ini hanya semata-mata untuk melancarkan pemasaran produk-produknya, padahal eksesnya lebih luas lagi, mempertahankan pendapat kuno bahwa dunia perempuan harus dibedakan. Disetiap iklan selalu juga menggunakan perempuan sebagai penghias iklan tersebut. Perempuan diangap sebagai komoditi, perempuan dianggap sebai pemoles.
Pembangunan citra tentang perempuan itu masih saja, dalam iklan perempuan selalu berhubungan dengan dapur-cuci, memasak, mencuci, mengurus anak atau menggambarkan perempuan pembantu rumah tangga yang kuno dan terbelakang. Mengingat Negara-negara dunia ketiga yang masih menggantungkan diri pada IMF dan Bank Dunia, akan terus dipaksa agar kepentingan kapitalisme internasional bias masuk, bias laku, maka butuh iklan yang menghipnotis dan mengilusi. Lebih singkatnya, bagi mereka logika pasarlah yang mengisi otak mereka. Pemilik, perancang dan pelaku dari industri periklanan yang menipu dan menindas kepentingan kaum perempuan miskin dan lainnya. Iklan dibuat secara sistematis untuk tetap membenarkan adanya kesenjangan kelas-kelas yang tertindas.
Ketika logika pasar yang dipakai, pasar akan dipaksa untuk membeli dari setiap produk yang ditawarkan. Bagaimana itu bias terjadi? Tentunya dengan membangun “image” atau citra, mereka tidak akan peduli dengan situasi ekonomi macam apa yang kita hadapi. Televisi yang dianggap menjadi salah satu hiburan kita pun, akan menjadi senjata ampuh bagi kepentingan kaum kapitalis. Contoh yang paling mudah kita lihat adalah pembangunan citra orang yang berkulit putih lebih bersih dengan berkulit warna. Berbondong-bondong kaum borjuis kecil memutihkan kulitnya. Sememtara kaum buruh yang gajinya tidak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya akan semakin tersingkir dari trend tersebut, akan dianggap hina dan jijik, terbelakang, ketinggalan jaman alias tidak modern.
Iklan merupakan pendapatan utama bagi lembaga media, terutama stasian televisi. Namun, ironisnya, iklan yang acap kali ditayangkan televisi justru menunjukkan kecendrungan bias gender. Tragisnya, gejala ini meluas pada jenis tayangan acara televisi lain.
DALAM perspektif fungsionalisme, iklan mempunyai tiga fungsi utama, yaitu:
1. fungsi identifikasi, yang berarti kemamapuan iklan membedakan suatu produk sehingga memiliki identitas dan personalitas dibandingkan dengan produk lain;
2. fungsi informasi, yang berarti mengomunikasikan informasi mengenai produk tertentu beserta berbagai atributnya serta lokasi penjualannya;
3. fungsi persuasi, yang berarti mendorong konsumen mencoba produk baru dan meyakinkan mereka untuk menggunakan kembali produk tersebut.
Perspektif fungsionalisme yang menekankan kehadiran iklan secara teknis inilah yang sangat mendominasi kesadaran masyarakat. Padahal, kemampuan teknis itu sendiri pada prinsipnya menyembunyikan kepentingan ideologis. Bahkan lebih dari itu, antara kepentingan teknis dan ideologis sudah sulit lagi dicari perbedaannya sebab fungsi teknis juga mengandaikan keterampilan untuk mengemas berbagai muslihat sehingga mampu menarik perhatian khalayak media. Jika kemudian khalayak memutuskan membeli (atau menolak) produk yang di iklankan, sebenarnya tidak terlepas dari kemampuan iklan melakukan persuasi. Bukankah persuasi tidak terlepas dari kehadiran ideologi yang tidak lain bermakna sebagai kesadaran palsu ? ideology itu sendiri, bekerja seperti kamera obscura yang memuntir dan membalikan kenyataan yang sesungguhnya sehingga realitas distortif itu seakan-akan menjadi wajar dan masuk akal.
IDEOLOGI sebagai kesadaran palsu secara kontinu diafirmasi media masa. Tragisnya, masyarakat menganggap semua yang ditampilkan media masa merupakan cermin realitas sosial, menjadi aksioma yang tidak perlu diragukan lagi kebenarannya.
Kesimpulan
Posisi perempuan dalam media masa memang tidak menggembirakan, cenderung tidak terwakili secara layak. Tercermin tidak saja di ranah hiburan, dalam bentuk infomasi, dalam iklan-iklan dalam dan luar ruang, dalam film dan sinetron. Bahkan dalam program berita dan talkshow pun simbol netralitas dan obyektifitas media-potret perempuan selalu berada dalam posisi terdiskriminasi. Hal inilah yang menyebabkan kaum perempuan tetap tertindas, kadang tanpa disadari, maka solusi untuk kaum perempuan dengan melihat kondisi objektif sekarang ini dimana kaum perempuan mengkampanyekan wacana gender atau merubah kesadaran masa dengan agitasi dan propaganda, membuat wadah/organisasi, dan melakukan perluasan struktur dan melakukan perlawanan terhadap ketidaksetaraan dan ketertindasannya oleh kapitalisme beserta antek-anteknya.
Refrensi
- Jorge Reina Schement (Encyclopedia of Communication and Information:Volume 1,2002:11).
- Karl Mark (Sosialisme utopis kerevisionisme).artikel
- Aam (iklan pembodohan dan pembebasan:majalah pembebasan (PRD) edisi IX 2004).
- LSM Perempuan SEKAR YOGYAKARTA.
- Burton, Graeme (2000). Talking television: An introduction to the study of television.
- London : Arnold.
- Hall, stuar (1997). “The work of representation” dalam refrentasi : cultural representation and signifying practices. New Delhi :sahe publication.
Oleh : Sukirman (mahasiwa Ilmu Komunikasi UMY, peserta mata kuliah Sosiologi Komunikasi)
Potret diri perempuan di media massa dalam literature surat kabar/majalah, film, televise, iklan dan buku-buku masih memperlihatkan stereotype yang merugikan yaitu gambaran yang selalu tampil adalah perempuan selalu pasif dan sangat tergantung pada pria, didominasi, menerima keputusan yang dibuat olah pria dan terutama melihat dirinya sebagai symbol seks. Dimana ini semua disebabkan belum tuntas revolusi pembebasan demokratik 1945 yang salah satu pimpinannya Soekarno, seperti sisia feodalisme yang melahirkan budaya patriarki dan kapitalisme cangkokan. Dimana kita tahu budaya patriarki sekarang ini telah mengakar dalam masyarakat dan musuh paling tua kaum perempuan, yang menempatkan kaum perempuan pada posisi subordinate yang meletakan pandangan kaum laiki-laki bahwa perempuan adalah masyarakt kelas dua atau posisi inferior.
Budaya patriarki yang mengakar inilah yang di manfaatkan oleh kapitalsime untuk melanggengkan eksploitasi terhadap kaum perempuan seperti buruh perempuan yang bekerja di pabrik-pabrik industri yang memutar baling-baling industri dengan upah yang rendah, jam kerja yang tinggi, buruh kontrak, perdangan perempuan dan belum lagi dijadikan obyek dalam mengiklankan produknya dengan memakai busana-busana yang seksi sekaligus konsumen dan masih banyak lagi. Ditambah dengan situasi ekonomi yang semakin tidak kondusif mengakibat perempuan semakin rentan dengan tindakan-tindakan kekerasan dalam bentuk-bentuk prostitusi, pekerja rumah tangga dan lain-lain. Seiring dengan perkembangan ekonomi kapitalisme lanjut yang semakin tidak menemukan arah perbaikan akan keadaan krisis ekonomi yang akut sehingga kapitalis mencari jalan keluar dengan menciptakan peperangan di Negara-negara dunia ketiga yang kaya akan minyak dan hasil bumi lainya, seperti invansi AS dan sekutunya ke Irak (eksploitasi minyak). Dengan wujud barunya neolibralisme, seperti kebijakan privatisasi terhadap BUMN, pasar bebas dan penghapusan tarif impor, kebebasan investasi, pencabutan subsubsidi dan anggaran Negara, deregulasi dan jaminan keamanan dan upah buruh rendah, yang memberi dampak yang sangat signifikan bagi rakyat ekonomi kelas menengah kebawah. Anehnya lagi eksploitasi yang dilakukan lewat struktur pemrintahan (boneka imprialis) dan penjawa modalnya militer.
Iklan (media massa) merupakan alat propaganda untuk melanggengkan idiologinnya, dengan menguasai media massa. Dan kita tahu dimana rakyat Indonesia yang sekarang ini jumlah kemiskinan mencapai 120 juta jiwa ¾ kaum perempuan. Melihat situasi nasional saat ini dimana kebijakan pemerintah menaikkan bahan baker minyak (BBM) ini semakin menambah jumlah kemiskinan terutama kaum perempuan. Kompensasi subsidi BBM kesektor pendidikan dan kesehatan ini tidak akan pernah terwujud karena anggaran APBN minim sekali. Mengingat iklan-iklan di televisi hampir semua produk memakai kaum perempuan paling banyak tampil sebagai bintang iklan.
Perempuan dan iklan
Hampir setiap hari kita selalu dicekoki dengan propaganda kaum kapitalis melalui berbagai macam media, mulai dari papan reklame di jalan, bis-bis umum yang cat bodynya terpasang iklan produk tertentu sampai dengan iklan televise yang ditengah acara-acara yang kita nikmati dan ini tidak hanya menawarkan produk tertentu tetapi juga mengisi kepala kita dengan kesadaran palsu.
Iklan –iklan televisi yang kita tonton setiap hari sangat mudah diserap oleh indra kita. Penempatan gambar, suara dan waktu cukup untuk menarik focus konsentrasi penonton. Bahkan tontonan yang berdurasi hanya 15-60 detik dikemas menjadi tontonan selingan yang menarik dan kreatif. Iklan-iklan tersebut membentuk “trend”, cara berfikir, gaya hidup masyarakat, seperti perempuan dengan tubuh yang tinggi, rambut lurus, kulit putih mulus dan muka bersih bersinar.
Lebih aneh lagi iklan yang sangat seksis, hampir disetiap produknya dibuat terpisah, untuk laki-laki atau perempuan. Lihat saja iklan motor yang dibintangi oleh Tesa Kaunang dan Komeng “perempuan punya motornya sendiri”. Pemisahan produk ini hanya semata-mata untuk melancarkan pemasaran produk-produknya, padahal eksesnya lebih luas lagi, mempertahankan pendapat kuno bahwa dunia perempuan harus dibedakan. Disetiap iklan selalu juga menggunakan perempuan sebagai penghias iklan tersebut. Perempuan diangap sebagai komoditi, perempuan dianggap sebai pemoles.
Pembangunan citra tentang perempuan itu masih saja, dalam iklan perempuan selalu berhubungan dengan dapur-cuci, memasak, mencuci, mengurus anak atau menggambarkan perempuan pembantu rumah tangga yang kuno dan terbelakang. Mengingat Negara-negara dunia ketiga yang masih menggantungkan diri pada IMF dan Bank Dunia, akan terus dipaksa agar kepentingan kapitalisme internasional bias masuk, bias laku, maka butuh iklan yang menghipnotis dan mengilusi. Lebih singkatnya, bagi mereka logika pasarlah yang mengisi otak mereka. Pemilik, perancang dan pelaku dari industri periklanan yang menipu dan menindas kepentingan kaum perempuan miskin dan lainnya. Iklan dibuat secara sistematis untuk tetap membenarkan adanya kesenjangan kelas-kelas yang tertindas.
Ketika logika pasar yang dipakai, pasar akan dipaksa untuk membeli dari setiap produk yang ditawarkan. Bagaimana itu bias terjadi? Tentunya dengan membangun “image” atau citra, mereka tidak akan peduli dengan situasi ekonomi macam apa yang kita hadapi. Televisi yang dianggap menjadi salah satu hiburan kita pun, akan menjadi senjata ampuh bagi kepentingan kaum kapitalis. Contoh yang paling mudah kita lihat adalah pembangunan citra orang yang berkulit putih lebih bersih dengan berkulit warna. Berbondong-bondong kaum borjuis kecil memutihkan kulitnya. Sememtara kaum buruh yang gajinya tidak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya akan semakin tersingkir dari trend tersebut, akan dianggap hina dan jijik, terbelakang, ketinggalan jaman alias tidak modern.
Iklan merupakan pendapatan utama bagi lembaga media, terutama stasian televisi. Namun, ironisnya, iklan yang acap kali ditayangkan televisi justru menunjukkan kecendrungan bias gender. Tragisnya, gejala ini meluas pada jenis tayangan acara televisi lain.
DALAM perspektif fungsionalisme, iklan mempunyai tiga fungsi utama, yaitu:
1. fungsi identifikasi, yang berarti kemamapuan iklan membedakan suatu produk sehingga memiliki identitas dan personalitas dibandingkan dengan produk lain;
2. fungsi informasi, yang berarti mengomunikasikan informasi mengenai produk tertentu beserta berbagai atributnya serta lokasi penjualannya;
3. fungsi persuasi, yang berarti mendorong konsumen mencoba produk baru dan meyakinkan mereka untuk menggunakan kembali produk tersebut.
Perspektif fungsionalisme yang menekankan kehadiran iklan secara teknis inilah yang sangat mendominasi kesadaran masyarakat. Padahal, kemampuan teknis itu sendiri pada prinsipnya menyembunyikan kepentingan ideologis. Bahkan lebih dari itu, antara kepentingan teknis dan ideologis sudah sulit lagi dicari perbedaannya sebab fungsi teknis juga mengandaikan keterampilan untuk mengemas berbagai muslihat sehingga mampu menarik perhatian khalayak media. Jika kemudian khalayak memutuskan membeli (atau menolak) produk yang di iklankan, sebenarnya tidak terlepas dari kemampuan iklan melakukan persuasi. Bukankah persuasi tidak terlepas dari kehadiran ideologi yang tidak lain bermakna sebagai kesadaran palsu ? ideology itu sendiri, bekerja seperti kamera obscura yang memuntir dan membalikan kenyataan yang sesungguhnya sehingga realitas distortif itu seakan-akan menjadi wajar dan masuk akal.
IDEOLOGI sebagai kesadaran palsu secara kontinu diafirmasi media masa. Tragisnya, masyarakat menganggap semua yang ditampilkan media masa merupakan cermin realitas sosial, menjadi aksioma yang tidak perlu diragukan lagi kebenarannya.
Kesimpulan
Posisi perempuan dalam media masa memang tidak menggembirakan, cenderung tidak terwakili secara layak. Tercermin tidak saja di ranah hiburan, dalam bentuk infomasi, dalam iklan-iklan dalam dan luar ruang, dalam film dan sinetron. Bahkan dalam program berita dan talkshow pun simbol netralitas dan obyektifitas media-potret perempuan selalu berada dalam posisi terdiskriminasi. Hal inilah yang menyebabkan kaum perempuan tetap tertindas, kadang tanpa disadari, maka solusi untuk kaum perempuan dengan melihat kondisi objektif sekarang ini dimana kaum perempuan mengkampanyekan wacana gender atau merubah kesadaran masa dengan agitasi dan propaganda, membuat wadah/organisasi, dan melakukan perluasan struktur dan melakukan perlawanan terhadap ketidaksetaraan dan ketertindasannya oleh kapitalisme beserta antek-anteknya.
Refrensi
- Jorge Reina Schement (Encyclopedia of Communication and Information:Volume 1,2002:11).
- Karl Mark (Sosialisme utopis kerevisionisme).artikel
- Aam (iklan pembodohan dan pembebasan:majalah pembebasan (PRD) edisi IX 2004).
- LSM Perempuan SEKAR YOGYAKARTA.
- Burton, Graeme (2000). Talking television: An introduction to the study of television.
- London : Arnold.
- Hall, stuar (1997). “The work of representation” dalam refrentasi : cultural representation and signifying practices. New Delhi :sahe publication.
